Bunga gumitir. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Pro kontra di masyarakat terkait rencana Bupati Bangli menjadikan bunga gumitir sebagai maskot Kabupaten Bangli kembali mencuat. Hal itu menyusul dilaksanakannya Focus Group Diskusi (FGD) untuk mematangkan rencana pembuatan maskot, Senin (6/5).

Menyikapi banyaknya pro kontra terkait pemilihan maskot di masyarakat, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bangli secara khusus berencana akan segera menggelar rapat dengan melibatkan sulinggih, pemangku, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Ketua PHDI Kabupaten Bangli Nyoman Sukra, Selasa (7/5), mengungkapkan selama ini pihaknya menerima banyak masukan dari masyarakat Bangli terkait maskot Bangli. Masukan yang masuk melalui WA, maupun medsos, cenderung kurang setuju dan mempertanyakan alasan pemilihan bunga gumitir sebagai maskot Bangli.

Tak ingin pro kontra di masyarakat berlarut-larut, pihaknya pun berinisiatif menggelar pertemuan dengan para tokoh guna mendapatkan masukan secara resmi. “Nanti masukan itu akan kami jadikan dasar ldalam memberikan rekomendasi kepada Bupati Bangli,” ujarnya.

Sukra mengatakan sebuah maskot kabupaten harus bisa membangkitkan semangat serta kebanggaan masyarakat. “Sekarang, belum jadi maskot saja kita sudah mulai ditertawakan, dipakai untuk lucu-lucuan, dilecehkan kita. Belum jadi sudah seperti itu kesannya, apalagi kalau sudah jadi. Takutnya orang Bangli, bukannya bangga malah miris, malah jadi minder,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya saat menghadiri FGD di Kantor Bupati Bangli Senin lalu, Sukra mengaku banyak memberikan masukan terkait pemilihan maskot. Menurutnya, warna bunga gumitir yang kuning, tidak cocok dengan Bangli. Secara filosofis, Bangli lebih cocok warna hitam. “Kalau kuning cocoknya untuk arah barat. Kalau di Bangli itu, warnanya hitam. Makanya kita bangga dengan baju hitamnya dan pucuk bang,” ujarnya.

Meski pucuk sudah dipakai sebagai maskot Gianyar, Sukra mengatakan masih memungkinkan Bangli menggunakann pucuk bang atau pucuk rejuna yang merupakan bagian/jenis dari bunga pucuk. Atau jika memang tidak bisa mengunakan pucuk bang atau rejuna, menurutnya Bangli bisa menggunakan bunga tunjung (teratai) sebagai maskot Bangli. “Bunga tunjung cocok karena sesuai kehidupan masyarakat Bangli. Bergulat dari bawah bergelimang lumpur, menembus air memberikan keseimbangan. Jadi tiga dimensi kita hidup. Filosofinya ada,” terangnya.

Baca juga:  Cara Tradisional, Evakuasi Korban dan Mobil Terperosok di Danau Batur Berhasil Dilakukan

Sukra juga kurang sependapat dengan pemilihan gumitir sebagai maskot, karena bunga Gumitir tumbuh cepat dan layunya juga cepat. Pihaknya tidak ingin masyarakat Bangli seperti gumitir.

Tak hanya itu, sesuai sastra tidak semua gumitir bisa dipergunakan persembahyangan ke Pura. Bahkan ada larangan juga jangan sampai bunga gumitir dipergunakan untuk mercikang tirta, Menurutnya jika memang tidak harus bunga yang dipakai maskot, maka lebih baik Pemkab Bangli memilih anjing Kintamani sebagai maskot.

Pendapat yang tak jauh berbeda juga disampaikan budayawan asal Susut, Bangli, I Gede Agus Darma Putra. Dikatakan Darma Putra, Peradah yang difasilitasi oleh DPRD Bangli beberapa bulan lalu sejatinya sudah sempat melakukan diskusi terkait pemilihan maskot yang cocok untuk Bangli. Dalam diskusi itu, muncul usulan untuk menggunakan bunga padma atau tunjung sebagai maskot Bangli.

Selain tunjung, muncul juga usulan menggunakan bunga jarak Bang. Dikatakan Darma Putra, konon sejarahnya, menurut penuturan orang tua terdahulu, Bangli dulunnya dipenuhi jarak bang. “Sehingga jarak bang menurut saya rasa representative dipilih untuk maskot. Jika memang harus bunga,” jelas pria yang juga Dosen IHDN Bangli itu.

Dia mengatakan dalam pembuatan maskot, pemerintah disarankan memilih sesuatu yang memiliki nilai filosofis tinggi. Kalau selain bunga, opsi lain yang bisa dipakai yakni gunung, danau atau anjing Kintamani. “Kalau memang diharuskan bunga, bisa teratai atau jarak bang. Kalau selain bunga bisa gunung, danau atau anjing Kintamani yang jadi ciri khas Bangli. Hanya saja imbasnya nanti secara teknis akan kesulitan dalam pembuatan tarian dan penjelasannya secara filosofis agar menjadi logis. Masalahnya hanya pada penjelasannya,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.