Petir
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Hasil otopsi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah telah keluar. Hasilnya menunjukkan pada jenazah Ni Made Ayu Serli Mahardika (20), terdapat luka-luka memar pada dahi, bibir dan leher.

Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah dr. Dudut Rustyadi, Sp.F.,SH. mengatakan, luka yang ditemukan akibat kekerasan tumpul. Penyebab kematian korban akibat penekanan jalan nafas sehingga korban kehabisan oksigen. Ditanya, apakah dengan cara dicekik, dr. Dudut mengiyakan.

Ditemui di Forensik RSUP Sanglah, ibu kandung korban Ni Wayan Sarini (49) menuturkan, anaknya selama bersekolah tinggal di kos milik saudaranya. Sebelum anaknya ditemukan membusuk di kamar kos, Sarini sempat mencari keberadaan anaknya yang hilang kontak.

Empat hari sebelum ditemukan, Sarini sempat menghubungi anaknya namun tidak ada jawaban. Ia juga sempat menghubungi IJ untuk menanyakan keberadaan anaknya.

Kodok menjawab bahwa anaknya sudah berangkat ke Penebel, Tabanan. Namun ternyata anaknya tidak sampai di rumah.

Ibunya kembali mencoba mencari anaknya lewat teman-teman anaknya. Teman-teman anaknya pun mengecek ke kos korban.

Namun hanya didapati motor korban dengan pintu kamar terkunci. Teman-teman anaknya melaporkan kondisi itu pada Sarini. Sarini masih penasaran dengan keberadaan anaknya.

Teman-teman anaknya kembali dimintai tolong untuk mengecek kos anaknya. Didapati kunci kamar korban terselip di jendela.

Baca juga:  Ada Korban di Ledakan Mapolrestabes Surabaya

Akhirnya pintu dibuka dan didapati korban dalam kondisi membusuk.Banyak beredar kabar bahwa korban dalam kondisi hamil.

Namun Sarini menegaskan bahwa anaknya tidak hamil. Karena saat terakhir pulang pada 2 April, putrinya mengatakan bahwa dirinya sedang haid.

Bahkan saat ditemukan tak bernyawa pun korban masih dalam kondisi menggunakan pembalut. Pelaku dan korban sudah sejak lama berhubungan.

Ia memprediksi sejak anaknya masih SMA sudah berpacaran dengan pelaku, namun sembunyi-sembunyi. Bahkan saat anaknya melihat pengumuman penerimaan mahasiswa, pelaku mengantar anaknya.

Mereka juga sama-sama berasal dari Desa Senganan Kangin, Penebel, Tabanan. Namun pelaku lebih banyak tinggal di Kota Tabanan.

Dengan keluarga pelaku pun ia kenal. Namun tak banyak hal diketahuinya tentang pelaku.

Dari pengamatannya, pelaku kerap memaksa anaknya, bandel, bahkan kerap mengancam anaknya. “Dia kasar sama Ayu, emang orangnya bandel, sering maksa Ayu, ngancam Ayu. Sama bapaknya Ayu juga pernah bertengkar,” ungkapnya.

Dengan tante kos dan om kos Ayu pun, pelaku dikatakan pernah bertengkar. Itu sebabnya ketika pelaku berada di kosnya Ayu, pemilik kos tak berani menghampiri. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.