MANGUPURA, BALIPOST.com – Kabupaten Badung sebagai daerah penunjang pariwisata, tentu harus terus dijaga terkait masalah lingkungannya. Sebagai aksi nyata sebagai komitmen untuk tetap menjaga keberlangsungan lingkungan, Pemerintah Daerah Kabupaten Badung melakukan aksi tanam mangrove di kawasan Tahura Ngurah Rai Patasari Kuta.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta hadir langsung memimpin ratusan massa yang terdiri dari ASN (Aparatur Sipil Negara) OPD di lingkungan Pemkab Badung, lembaga masyarakat, pemuda serta undangan lainnya, yang tumpah ruah melakukan penanaman bibit mangrove. Turut hadir mendampingi Wabup Badung, Ketut Suiasa, Perwakilan Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti, Sekda Badung bersama staff ahli dan Asisten Bupati, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Badung, Kapolresta Denpasar dan Kapolsek Kuta, Kadishut Propinsi dan Kepala UPT Tahura Ngurah Rai, Bendesa Adat Kuta, Camat Kuta, Lurah sekecamatan Kuta, Kepala Lingkungan, LPM, tokoh masyarakat lainnya.

Dalam aksi tanam mangrove yang bertajuk ‘Badung Peduli Lingkungan, 5000 Mangrove Berjuta Manfaat’ itu, sebanyak 5000 bibit mangrove ditanam di Tahura Ngurah Rai Patasari. Sebanyak 10 pohon mangrove diantaranya merupakan tanaman mangrove langka jenis banang-banang.

Selain itu dilakukan pula pelepasliaran satwa spesies hutan mangrove, yaitu seekor burung langka berjenis elang bio, 25 ekor burung tekukur, 7 ekor biawak, 2 ekor kura-kura dan seekor empas (bulus). “Kegiatan ini merupakan salah satu dari 6 prinsip dasar pembangunan di kabupaten Badung, yaitu Pro Growth (pro pertumbuhan), Pro Poor (pro pengentasan kemiskinan), Pro Job (pro penciptaan lapangan kerja) Pro law enforcement (pro penegakan aturan), Pro Environment (pro lingkungan dan Pro culture (pro budaya). Mari kita bersama-sama melestarikan lingkungan,” terang Giri Prasta.

Dikatakannya, kegiatan ini sekaligus merupakan bentuk komitmen Pemda Badung yang senantiasa mengamalkan ajaran Tri Hita Karana, atau 3 sebab yang membuat manusia bahagia. Khususnya di bagha Palemahan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Sedangkan bagha Parhyangan yaitu hubungan harmonis manusia dengan tuhan diimplementasikan melalui kegiatan perbaikan tempat persembahyangan, termasuk upacaranya. Sementara untuk bagha Pawongan hubungan harmonis manusia dengan sesama diimplementasikan melalui pendidikan gratis, kesehatan gratis dan sebagainya. “Ini implementasi tri hita karana yang wajib dilakukan. Hubungan manusia dengan lingkungan ini salah satu bentuk riilnya adalah normalisasi sungai yang telah kita lakuian dan penanaman hutan mangrove,” tegasnya.

Baca juga:  Cuaca Buruk, Nelayan Badung Diminta Waspada

Dipaparkannya upaya menjaga kawasan hutan mangrove dinilainya harus senantiasa digelorakan. Sebab itu merupakan salah satu langkah normalisasi, yaitu bagaimana membuat kawasan yang tidak normal (gundul) kembali normal.

Selain itu sedimentasi yang terjadi di muara dinilainya harus diangkat, sehingga tidak terjadi rob. Bukan hanya itu komitmen pihaknya terkait kebijakan pro environtmen juga akan terus dikembangkan. Yaitu dengan melakukan rebosisasi di daerah aliran sungai di hulu, bersama dengan pekaseh subak. “Mangrove merupakan salah satu paru-paru dunia, jadi kita harus jaga. Kebijakan pro environment ini adalah komitmen kita sedari awal, jadi kita awali dulu di daerah pesisir (hutan mangrove), nanti kita akan telusuri juga ke hulu untuk melakukan reboisasi,” pungkasnya.

Ia sempat mengabsen kepala OPD yang tidak hadir, karena ia mengaku tidak memberikan toleransi akan hal itu. Sebab itu merupakan cermin bagi stafnya.

Sementara Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DLHK) kabupaten Badung, I Putu Eka Merthawan menerangkan kegiatan tersebut merupakan inovasi nyata dari Bupati Badung, yang mengadopsi konsep Badung darurat berbenah. Yang kali ini terfokus pada prinsip ke 5 kabupaten Badung, yaitu Badung Pro-Environment (peduli lingkungan) dengan berbasis pada suistainable, development, goals terfokus. “Terselengaranya program ini berkat sinergitas lintas OPD Badung dengan komponen masyarakat, yaitu Dinas PUPR, DLHK, Pol PP, Dinas Damkar, bagian SDA, bagian Umum, Bagian Perwat, Humas dan Camat Kuta. Adapun kelompok masyarakat yang bersinergi adalah kelompok Nelayan Prapat Agung Mangening Patasari Kuta dan Krisna Oleh-oleh Bali,” terang Eka Merthawan.

Lokus penanaman 5.000 bibit mangrove tersebut terbagi menjadi 2 kawasan. Yaitu zona barat sebanyak 2.000 pohon mangrove jenis lindur, dan tanjang, dengan penanggung jawab seluruh staff DLHK Badung. Sedangkan zona timur sebanyak 3.000 pohon mengrove jenis lindur, tanjang, tengeh dan jangkang, dengan penanggung jawab seluruh ASN, OPD dan komponen masyarakat Kuta.

Bibit pohon mangrove dan pirantinya tersebut seluruhnya berasal dari kelompok nelayan Prapat Agung Mangening Patasari, di bawah pembina I Gusti Anom Gumanti. “Diharapkan pohon ini bisa hidup sekitar 70-80 persen dengan perawatan dari nelayan. Jika dibandingkan ditempat lain harapan hidupnya hanya 10 persen,” pungkasnya. (Adv/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.