Warga menangkap ular piton yang diduga ada di permukiman karena air sungai meluap. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Meluapnya air sungai akibat hujan di bagian hulu Jembrana tidak saja mengakibatkan banjir di permukiman warga. Sejumlah kayu hutan dan hewan-hewan yang biasa hidup di hutan pun ikut terseret berpindah ke hilir. Salah satunya hewan yang terseret adalah ular.

Seperti yang terjadi di bantaran sungai Tukad Mati, Loloan Timur. Di wilayah permukiman padat penduduk itu, sejak sepekan ini warga menangkap dua ekor ular jenis Piton.

Ular berkulit loreng cokelat hitam itu salah satunya memiliki panjang 2,5 meter dan sebesar lengan orang dewasa. Ular itu ditangkap bersama-sama di pekarangan rumah milik warga. “Kita tangkap setelah ada informasi dari warga, katanya melihat ular dan hendak memangsa ternak di pekarangan rumah,” ujar Kepala Lingkungan Loloan Timur, Muztahidin Rabu (27/3).

Setelah Ular tersebut berhasil ditangkap, warga menaruh di dalam karung beras untuk diamankan. Diyakini ular itu sebelumnya berada di sekitar Tukad Mati yang lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.

Baca juga:  #BijakBerplastik, Danone-Aqua Teguhkan Komitmen Atasi Sampah Plastik

Kondisi Tukad Mati, memang buntu (air tidak mengalir) dan saat air naik mirip rawa-rawa. Hal itu memungkinkan banyak hewan melata yang hidup termasuk salah satunya ular.

Menurutnya kejadian ini bukan yang pertamakali. Pada Kamis (21/3), warga juga mendapati ular jenis yang sama. Mereka meyakini ular-ular ini keluar dari sungai itu karena lapar. Sehingga mencari mangsa di sekitar permukiman warga yang memiliki peliharaan ayam.

Sebelum-sebelumnya warga di sekitar jalan Gunung Agung juga sering mendapati ular. Bahkan dulu ukurannya sebesar paha orang dewasa. Saat ini ular yang ditangkap masih diamankan oleh warga. Ketika BKSDA mau meminta, warga juga siap memberikan. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.