DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2019 akan digelar 15 Juni hingga 13 Juli mendatang. Perhelatan tahunan seni dan budaya yang ke-41 ini mengusung tema “Bayu Pramana: Memuliakan Sumber Daya Angin”. Berbagai bentuk pesta kesenian dengan 7 materi pokok, yaitu pawai, parade, lomba, pergelaran, pameran, sarasehan, dan workshop siap dikemas inovatif, sehingga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Persiapannya pun telah mencapai 75 persen. Hal ini diungkap Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani, S.ST., M.Si., usai melaksanakan rapat kerjasama dengan media di Ruang Rapat Padma Disbud Provinsi Bali, Kamis (21/3).

Sulastriani memaparkan bahwa persiapan tersebut dimulai dengan melakukan rapat-rapat dan pembinaan dengan Kabupaten/Kota se-Bali secara berkelanjutan dan simultan. Apabila pembinaan sudah selesai dilakukan, maka tahapan selanjutnya hanya tinggal persiapan teknis menjelang digelarnya pawai PKB 3 bulan mendatang.

Sulastriani mengatakan bahwa materi dalam penyelenggaraan PKB tahun ini tetap sama karena sudah diperdakan. Namun, akan dikemas lebih inovatif, beragam, dan menarik. Pawai misalnya. Tahun 2019 ini, pawai yang akan digelar di depan Monumen Bajra Sandhi, Renon ini akan lebih mengedepankan hirarki gerak yang dinamis dan inovatif yang mengacu pada tema sentral PKB “Bayu Pramana”. Selain itu, dari Kabupaten/kota tidak diperkenankan menggunakan mobil hias. Mobil hias hanya digunakan untuk tamu undangan, seperti Presiden, Menteri dan Media Massa.

Dengan mengacu pada tema itu, dikatakan Kabupaten/Kota ditampilkan dengan nuansa yang mengacu pada angin, seperti menampilkan pindekan dan memainkan Gempong Penjor. “Seperti itulah yang nanti digarap secara kreatif dan inovatif oleh perwakilan kabupaten dan kota tersebut,”ujarnya.

Selain itu, materi parade seni, seperti gong kebyar dewasa, gong kebyar anak dan gobng kebyar wanita juga dikemas berbeda dengan tahun sebelumnya. Gong kebyar dewasa misalnya, yang tidak diisikan dengan fragmentari. Namun, lebih diisi dengan pagelaran kolosal berbasis tradisi yang ada di Kabupaten/Kota.

“Di sinilah letak uniknya PKB Tahun ini. Beda dari tahun lalu. Kalau tahun lalu fragmentari include di materi gong kebyar dewasa, tetapi sekarang materi parade gong kebyar dewasa ini lebih ke materi yang sesolahan dengan gerak-gerak tari maupun kerawitannya,”tandas Sulastriani.

Pada materi Workshop juga berbeda dari tahun sebelumnya. Dimana, pergelaran PKB tahun 2018 lalu hanya ada 1 jenis seni yang diworkshopkan, namun tahun ini sebanyak 10 seni diworkshopkan yang tetap mengacu pada tema PKB XLI. Diantaranya, pembuatan Pindekan/Sunari/Guwangan, Patung Garuda, seni lukis gaya Kamasan tema Hanan, Ngunda Bayu dalam baca puisi berbahasa Bali, animasi bertemakan energi batu terbarukan berbasis kearifan lokal, yoga (pranayama), Ngunda Bayu dalam seni tari bersama para maestro, seni kerawitan berbasis alat tiup , Ngunda Bayu dalam seni sastra, dan Dolanan/garapan maplalianan. (Winata/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.