Mobil dan sepeda motor melintasi jalur alternatif yang menyeberangi Tukad Pakerisan. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com –  Pemandangan di Tukad Pakerisan hingga kini masih dijadikan jalur alternatif penyebrangan kendaraan. Kendaraan seperti sepeda motor hingga truk sudah biasa setiap harinya menyebrangi jalur tersebut sebagai jalan alternatif. Jalur tersebut terletak di perbatasan Desa Siangan Kecamatan Gianyar di sebelah selatan dengan Desa Pejeng Kecamatan Tampaksiring di sisi utara.

Menurut Wayan Suasa, salah satu warga yang rutin menggunakan jalur alternatif ini menerangkan bahwa pemandangan mobil menyebrangi sungai sudah biasa terjadi. Syukur-syukur aliran air sungai kecil, sehingga kendaraan yang melintas tidak tertahan. Namun jika arus sungai besar, kendaraan roda 4 pun harus putar balik. “Kalau sopirnya berani, kadang ada kendaraan yang tetap nerobos arus sungai yang besar,” katanya ditemui Senin (11/3).

Ia sendiri rutin melintasi jalur ini, bahkan sudah sejak kanak-kanak. Menurutnya hingga kini memang belum pernah dibangun jembatan di lokasi tersebut. Padahal jalur alternatif ini sering dilalui. Terutama untuk memotong jalan dari Gianyar ke Tampaksiring.

Di kawasan itu juga terdapat sebuah bendungan DAM di sisi timur yang telah ada sejak tahun 1980 – an. Jalan setapak dengan lebar sekitar satu meter di atas bendungan itu, kerap dijadikan jalur alternatif bagi pengendara sepeda motor. Sedangkan kendaraan roda empat seperti mobil maupun truk, pilih menyebrangi aliran Tukad Pakerisan yang letaknya sekitar 10 meter di sisi barat DAM.

Baca juga:  Pegawai Kontrak PLN Ditangkap Simpan Sabu-sabu

Meski tidak seramai di jalan raya, jumlah kendaraan yang memanfaatkan sungai dan jalan DAM ini cukup banyak. Bahkan sepeda motor dari berlawanan arah, harus rela antre agar bisa melintas. Sebab jalur DAM tersebut hanya bisa dilalui satu sepeda motor saja.

“Sebenarnya itu jalur untuk pejalan kaki atau petugas untuk merawat DAM. Tapi oleh masyarakat dijadikan jalur sepeda motor,” terangnya.

Menurut Suasa, jalur tersebut cukup vital, ia pun berharap ada perhatian pemerintah untuk membuatkan jembatan permanen. Diakui, jalur ini mampu memangkas waktu perjalanan dari Gianyar menuju Tampaksiring begitu pula sebaliknya. “Kalau lewat jalan raya, kerap macet. Lebih rindang lewat jalur alternatif ini. Masih asri,” ujarnya.

Ditambahkan bahwa dulu aliran air di sungai itu cukup besar. Tapi lama-lama, sungai ini mengendap banyak pasir. Diduga hal ini terjadi karena banyaknya truk yang melintas. ” Di sisi selatan juga sudah ditumbuhi semak-semak, sehingga mobil semakin berani lewat karena dangkal. Tapi demi keselamatan, tentu harapannya agar bisa dibangun jembatan disini,” jelasnya. (manik astajaya/balipost)

 

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.