DENPASAR, BALIPOST.com – Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Ruddi Setiawan terus menggandeng tokoh agama untuk bersama-sama menggaungkan tolak paham radikalisme, intoleransi dan berita bohong atau hoax. Apakagi dalam waktu dekat digelar Pilpres dan Pileg 2019.

Dihadapan para Takmir Masjid dan Mushola se – Kota Denpasar, Kuta dan Kuta Selatan, Badung, Kapolresta Kombes Ruddi, Sabtu (9/3) mengatakan, menghadapi Pemilu 2019, ia berharap agar tidak ada niat untuk mengganti ideologi yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Masalah berita hoax, mantan Kapolres Badung ini menyampaikan menjadi topik utama dalam pemilu kali ini. “Seperti halnya tempat-tempat yang dianggap suci oleh masyarakat digunakan sebagai tempat kampanye. Oleh karena itu masyarakat sekarang jangan sampai termakan hasutan hoax,” tegasnya di Aula Lantai III Gedung Pesat Gatra Mapolresta Denpasar.

Ia juga menyampaikan kasus narkoba dulu mencapai 60 persen dari kalangan masyarakat dan semenjak ia menjadi Kapolresta mengalami penurunan sebanyak 37 persen. Mantan Wadir Ditreskrimsus Polda Bali ini menekankan kepada masyarakat dan generasi muda biar tidak kena narkoba.

Jauhi berita bohong karena bisa membuat persatuan dalam keagamaan serta kesatuan dan kesatuan bangsa bisa terpecah belah. “Mohon dukungan masyarakat terutama Takmir Masjid di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Sebagai Kapolresta, saya mempunyai program yaitu Suling (Subuh Keliling ) dan Juling (Jumat Keliling),” ujarnya.

Baca juga:  Dua Tahanan Polresta Kabur

Sambutan Ketua MUI Kota Denpasar dibacakan Ashari Muslih selaku Sekretaris, pada intinya mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tetap kondisif menjelang pileg dan pilpres. Menciptakan suasana yang kondusif menjadi tanggung jawab masyarakat itu sendiri, terutama Takmir Masjid. “Dalam pemilu perbedaan bisa terjadi hanya di bilik suara, setelah keluar dari bilik suara atau di luar tetap memegang rasa persatuan dan kesatuan,” ujarnya.

Negara harus ada presiden yang akan dipilih oleh rakyat. Untuk itu maka masyarakat diharapkan datang ke TPS dan memberikan hak suaranya sesuai dengan hati nurani.

Ia pun sepakat masjid tidak digunakan sebagai tempat politik praktis. “Jangan sekali-sekali masjid dipakai sebagai tempat mengkondisikan masyarakat ” tegasnya.

Keanekaragaman dan perbedaan harus tetap di pertahankan serta dijaga. Jangan karena perbedaan itu dipakai untuk menjatuhkan pondasi bangsa dan negara yang sudah kuat karena adanya banyak perbedaan tersebut. (Kerta Negara/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.