KLATEN, BALIPOST.com – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat Hindu dan semua pihak pada umumnya untuk menjadikan Hari Suci Nyepi sebagai sumber inspirasi untuk menata perbuatan, perkataan dan pikiran.

Penegasan disampaikan Lukman Hakim Saifuddin saat mengikuti Tawur Agung Kesanga di pelataran Candi Prambanan, DI Yogyakarta, Rabu (6/3). Mari kita jadikan Hari Suci Nyepi kita jadikan sumber inspirasi untuk menata, perbuatan, perkataan dan pikiran menjadi Trikarya Parisuda untuk perbuatan yang suci dan bersih,” ujarnya.

Ia berharap pascamelaksanakan Hari Suci Nyepi akan diperoleh kesadaran moral  untuk menapak langkah kehidupan menjadi lebih baik lagi. “Dengan menjadi parisuda semoga umat Hindu mampu menjadi dirinya sendiri dan menghindari perbuatan adharma,” imbuhnya.

Lebih jauh, Lukman mengatakan momentum Hari Suci Nyepi bertepatan dengan tahun politik dimana kontestasi pesta politik selalu menyajikan pilihan-pilihan, opsi-opsi alternatif yang kalau tidak disikapi secara arif bisa membuat bangsa ini terpecah belah, terkotak-kotak dan dampak buruk lainnya,

Oleh karena itu, Hari Suci Nyepi  yang dilaksanakan menjelang Pemilu 2019 menjadi tepat untuk menumbuhkan kepekaan dan kesadaran moral. Kepekaan itu digaungkan secara masif dalam Hari Suci Nyepi Tahun ini dengan tema sentral ‘Melalui  Catur Brata  Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019’. “Menurut hemat saya tema itu bukan sekedar jargon tetapi sangat penting dan strategis sehingga diharapkan menjadi pemilu yang demokratis  dan damai,” ujarnya.

Wisnu Bawa menekankan kembali tentang makna Nyepi bagi  umat Hindu yaitu empat pedoman dalam menumbuhkan pengendalian diri dan mawas diri. Amati geni, amati lelanguan, amati karya, dan amati lelungaan.

Amati Geni, menurut Wisnu Bawa memiliki makna tidak melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan menghidupkan api. “Matanya diistirahatkan agar terbuka luas sehingga mampu melihat kondisi nyata tentang kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Juga Amati Lelanguan yaitu tidak berpesta pora, agar hati nurani dapat merasakan kondisi yang ada di sekitar kita. Mulat sarira atau mawas diri terhadap kegiatan yang berkaitan dengan perkataan yang benar.

Ketiga, Amati karya yaitu instropeksi diri dalam kaitan dengan berkarya atau bekerja.  Merenung sudahkah kegiatan yang dilakukan selama ini sudah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. “Tidak bekerja,  kita berpuasa. Bagaimana kalau  sehari, seminggu, setahun. Untuk itu perlu kepedulian sosial kita terhadap lingkungan sekitar kita,” ucap Wisnu Bawa.

Keempat Amati Leluangan. “Kita tidak berpergian. Diam di tempat untuk imtropeksi diri. Nang, ning nung, nang. Meneng, Hening, Hanung dan Menang. Yaitu intropkesi kehidupan agar kehidupoan menjadi lebih baik. Kendalikan panca indera kita. Ini harus dikomando kendalikan dengan baik dan benar,” tegas Wisnu Bawa.

Ia pun mengajak generasi muda saat ini yang dikenal sebagai generasi milenial agar memiliki cita-cita, baik cita-cita perorangan maupun organisasi yang tidak boleh lepas dari cita-cita bernegara. Yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pada Tawur Agung Kesanga tahun ini dihadiri tokoh Masyarakat Hindu se-Indonesia, jajaran PHDI Pusat dan daerah.

Sedangkan dari pemerintah dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen Dimas Hindu Ketut Widnya, anggota DPD RI Arya Wedakarna dan pejabat pemerintahan setempat antara lain Staf Ahli Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono bidang budaya dan Kemasyarakatan Tri Mulyono.

Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, Kapolda DI Yogyakarta Irjen Pol Ahmad Dofiri, Kakanwil Kemenag Jateng, Kakanwil Kemenag DIY, bupati Klaten SKDP di lingkungan Kabupaten Klaten. (Hardianto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.