Produksi buah manggis petani Tabanan. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Eksportir manggis Bali saat ini dihadapi masalah baru dengan naiknya tarif jasa layanan pengiriman melalui udara. Meski belum memberikan efek secara signifikan, untuk bisa menekan biaya operasional pihak eksportir berusaha mencari jalan lain, salah satunya melirik jalur laut.

Namun untuk itu diperlukan kesiapan seperti SDM yang berkompeten serta cara menjaga kualitas buah hingga tetap baik sampai di negara ekportir. Salah seorang eksportir manggis asal Tabanan, Jero Putu Tesan, mengatakan adanya kenaikan tarif jasa pengiriman lewat udara mau tidak mau akan menambah biaya operasional.

Di sisi lain sebagai pelaku eksportir buah manggis, pihaknya harus menjaga kestabilan harga jual manggis ke negara ekportir dalam hal ini Tiongkok agar tidak kalah dengan negara pengespor lain. “Misalnya Thailand. Waktu panen mereka berbarengan dengan kita. Mereka juga berani menawarkan harga lebih murah karena biaya operasional mereka untuk pengiriman lebih sedikit dari kita dikarenakan jarak mereka dengan Tiongkok lebih dekat,” ujarnya.

Baca juga:  Penyelundupan Narkoba Dominan Lewat Jalur Laut

Meski menurut Jero Tesan kenaikan harga jasa pengiriman lewat maskapai penerbangan ini dari sisi persentase belum signifikan, setiap kenaikan tetap harus diantisipasi. Salah satu langkah yang diambil adalah rencana menekan pembelian produk dari petani untuk bisa tetap bersaing di pasar ekspor. “Tetapi ini baru rencana,” ujarnya.

Langkah lain adalah distribusi melalui laut. Cuma jika lewat distribusi laut ini harus mempersiapkan SDM untuk menjaga kualitas, termasuk ketahanan buah agar tetap dalam kondisi baik ketika sampai di negara tujuan karena lebih lamanya waktu pengiriman.

Selain itu, kendala yang masih menjadi pertimbangan adalah, untuk pengiriman pelabuhan laut langsung melalui Bali ke Tiongkok belum bisa dilakukan. Harus mengirim melalui pelabuhan di Surabaya dan Tanjung Priuk. “Meski sudah mempersiapkan antisipasi, kami tetap berharap agar biaya tarif kargo oleh perusahaan penerbangan ini dievaluasi karena membebani pada eksportir. Termasuk juga petani sebagai produsen,” tegasnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.