Direktur RSBM, dr. Bagus Darmayasa. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) yang terletak di Jalan by Pass Ngurah Rai, Sanur telah mencanangkan diri sebagai rumah sakit sayang ibu dan anak pada Selasa (26/2). Pencananganan ini sesuai dengan UU dan peraturan pemerintah bahwa rumah sakit harus mendukung program pemerintah dalam menekan angka kematian ibu dan anak (AKI dan AKA).

Direktur RSBM dr. Bagus Darmayasa, M.Repro. mengatakan, RSBM mencanangkan Gerakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Anak (GRSIA) karena kewajiban institusi rumah sakit mendukung program pemerintah berdasarkan UU. “Dan kita baru setahun berdiri sudah langsung melakukan itu,” ujarnya.

Diakui ia ingin mengambil langkah cepat untuk perkembangan rumah sakit. Termasuk mempercepat pencanangan GRSIA. Selain itu, RSBM pada 2025 menuju RS kelas dunia. “Artinya kita mengikuti akreditasi internasional, JCI,” ungkapnya.

RSBM memiliki kesiapan peralatan fasilitas untuk perawatan ibu dan anak diantaranya, ruang IGD bersalin, ruang PICU, NICU, dan tim medis yang concern terhadap penanganan ibu dan anak. RSBM juga dilengkapi dengan ruang laktasi sebagai tempat untuk pasien menyusui.

Tidak hanya sarana dan prasarana, tapi juga kualitas perawatan pada ibu dan anak. Angka kematian ibu dan bayi di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Bali tersebut nol. Bahkan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) di bawah 1.500 gram, mampu bertahan hidup. “Artinya penanganan persalinannya sudah bagus. Kita banyak menerima rujukan – rujukan yang kondisinya sudah tidak bagus. Contoh bayi BBLR. Itu harus dimasukkan dalam inkubator yang bagus,” bebernya. Selanjutnya, pada Mei 2019, RSBM akan mengikuti akreditasi KARS.

Baca juga:  Soft Openingnya Ditunda, RSBM Tetap Layani Pasien

Kepala Instalasi Ibu dan Anak RSBM dr.IA Indira Mandini Manuaba, Sp.OG.memaparkan, ada 10 penilaian dalam menentukan keberhasilan penilaian sebagai rmah sakit sayang ibu dan anak. Titik fokusnya pada pemberian ASI ekslusif. Selain itu juga Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dilakukan di RS tersebut.

Untuk bayi BBLR, perawatan metode kanguru juga dilakukan. Metode kanguru membuat bayi dari lahir sudah langsung dekat dengan ibu. Setelah itu anak ibu langsung IMD, baik lahir  normal maupun cesar. Setelah lahir pun bayi akan terus ada di samping ibu, dirawat gabung dengan ibunya. “Untuk perawatan misalnya menggunakan selendang atau baju khusus. Metode kangguru itu sebenarnya pengganti inkubator. Dada ibu dan dan anak akan dekat jadi bayi itu hangat,” bebernya.

RSBM juga menerapkan upaya ponek (penanganan obstetri neonatus emergency komprehensif). “Jadi kita punya IGD kebidanan tapi gabung dengan IGD umum. Jadi IGD untuk umum dan ibu hamil,” ujarnya.

RSBM mendukung penuh ASI ekslusif, sehingga tidak ada penggunaan susu dan empeng di RSBM. “Kita juga punya tim pendukung ASI, jadi kita punya call center  ASI,” ungkapnya.

Pasien yang sudah pernah dirawat di RSBM pasti sudah tahu ada konselor ASI. Jika ada masalah yang berhubungan dengan ASI, pasien akan menelepon call center ASI yang standby 24 jam. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.