DENPASAR, BALIPOST.com – Penganugerahan pers K. Nadha Nugraha 2019 juga diisi dengan diskusi “Mengawal Budaya Bali” di Wantilan Gedung Pers Bali Ketut Nadha, Denpasar, Jumat (22/2). Istri Gubernur Bali, Putri Suastini Koster didaulat menjadi keynote speaker.

Di samping itu hadir pula 5 narasumber, yakni Kadek Wahyudita (Klian Penggak Men Mersi), I Gde Nala Antara (Akademisi Universitas Udayana/ Kelompok Ahli Pemprov Bali), I Made Suartha (Rektor IKIP PGRI Bali), I Made Buda Astika (Kepala SMKN 5 Denpasar), dan I Gede Arya Sugiartha (Rektor ISI Denpasar).

Putri Suastini Koster mengatakan, tidak ada kata terlambat untuk memulai langkah untuk mengajegkan Bali. Terutama bahasa Bali, yang kini mulai mengalami pergeseran di dalam rumah tangga.

Pasalnya, orangtua jaman milenial cenderung sangat bangga jika anak dan cucunya menggunakan bahasa “Ratu Elizabeth” alias bahasa Inggris. “Bangga kita kalau anak-anak memanggil daddy, bukan nanang atau bapa. Padahal, itu pelan-pelan akan menggeser kedudukan bahasa ibu kita,” ujarnya.

Di kesempatan berbeda, lanjut Putri Suastini Koster, orang tua atau anak-anak juga bangga diperkenalkan bisa menguasai sejumlah bahasa asing. Sementara bahasa Indonesia dan bahasa Bali tidak termasuk dalam bahasa yang dikuasai itu.

Meskipun sederhana, hal ini membuatnya miris karena masyarakat Bali lupa untuk menjaga bahasa ibunya sendiri. Padahal, membiasakan penggunaan bahasa Bali secara sederhana bisa dimulai dari rumah.

“Suatu saat nanti justru orang dari Belgia, orang dari Kanada yang berbahasa Bali halus lalu kita belajar pada mereka. Jangan sampai begitu,” jelasnya.

Klian Penggak Men Mersi, Kadek Wahyudita mengatakan, minat generasi muda justru cukup tinggi pada seni. Ini juga didukung oleh pemerintah yang memfasilitasi lewat wadah-wadah seperti festival.

Tinggal sekarang tantangannya adalah bagaimana mengelola potensi itu. “Yang perlu kita persiapkan ke depan adalah portofolio Mereka. Ini yang masih kurang dan perlu didorong ke depan sambil mendata secara pasti,” ujarnya.

Akademisi, I Gde Nala Antara mengatakan, budaya Bali yang selama ini lebih banyak dikenal adalah seni. Padahal sesungguhnya akar dari semua objek pemajuan kebudayaan termasuk seni adalah bahasa.

Bisa dikatakan, bahasa adalah inti dari sebuah kebudayaan. Kebudayaan Bali akan hilang jika bahasa Bali hilang. Itu sebabnya, ia mengapresiasi kebijakan gubernur yang memposisikan budaya sebagai hulu-nya pembangunan.

Baca juga:  Turis Korea Kecopetan di Kuta

Rektor IKIP PGRI Bali, I Made Suartha juga mengaku khawatir dengan bahasa Bali. Kendati ada optimisme lewat Pergub yang memihak bahasa, aksara, dan sastra Bali, namun tetap ada keprihatinan dengan perkembangan bahasa Bali saat ini.

Sebagai contoh saat ia pentas sebagai pemain arja, anak-anak atau generasi muda justru tidak merespon saat dirinya memakai bahasa Bali halus. Untuk melestarikan bahasa Bali, IKIP PGRI Bali yang dipimpinnya tak hanya memiliki Prodi bahasa Bali.

Tapi juga memberikan SPP gratis bagi mahasiswa yang berkuliah di Prodi tersebut. Selain itu membiasakan penggunaan bahasa Bali dengan selalu menggelar rapat setiap Kamis. Seperti diketahui, Kamis dalam Pergub merupakan hari untuk memakai busana adat dan berbahasa Bali.

Kepala SMKN 5 Denpasar, I Made Buda Astika mengatakan, tidak semua masyarakat memandang seni dapat menjamin kehidupan. Oleh karena itu, pihaknya bertugas untuk meyakinkan anak didik, orangtua, dan masyarakat bahwa seni bisa dilakoni untuk menjamin hidup.

Seluruh guru dan siswa di sekolah sudah diajarkan untuk selalu berpikir profesional. Sebab di Bali, kalau sudah berhubungan dengan seni maka konsepnya adalah ngayah. “Betul, ngayah tidak boleh hilang. Tapi harus bisa ditempatkan, dimana ngayah, dimana profesional. Kalau mau ngayah di Pura atau Banjar. Konsep ngayah jangan dibawa ke hotel juga,” jelasnya.

Dikatakan Buda Astika, menuntut ilmu di sekolah seni tidak cukup hanya untuk menyalurkan hobi. Tapi harus ada jiwa enterpreneur yang dimiliki, dan itulah yang juga ditanamkan oleh pihaknya.

Tidak hanya kepada siswa, juga kepada guru.

Rektor ISI Denpasar, I Gede Arya Sugiartha mengatakan, stigma lama menjadi seniman adalah memiliki masa depan gelap. Tapi sekarang stigma itu sudah dijawab dengan inovasi bidang-bidang ilmu, memberikan pembelajaran enterpreneur, hingga mengembangkan pola pikir.

Sebagai contoh, jurusan seni tari tidak hanya bisa menari. Tapi juga tahu ilmu tata rias, ilmu busana, hingga bisa menjadi penulis dan membuat event organizer. Itu sebabnya, lulusan ISI Denpasar tidak ada yang menganggur. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.