Dengan menunggangi kuda, beberapa wisatawan berkeliling menikmati panorama di Pantai Pererenan, Badung. (BP/dok)

Pascadibekukannya sejumlah toko yang menjual segala keperluan wisatawan Tiongkok, jumlah wisatawan asing ke Bali tetap tinggi. Hanya, terjadi pergeseran posisi yang dulu ranking pertama ditempati wisatawan Tiongkok, kini diambil alih oleh wisatawan asal Australia.

Ini membuktikan pariwisata Bali memiliki daya tarik tersendiri. Namun, pada praktiknya ke depan, pola promosi dan pemasaran pariwisata Bali juga harus inovatif dan terukur.

Praktik monopoli oleh agen wisatawan di Tiongkok dengan menjual paket wisata Bali yang murah bahkan tak masuk akal jelas-jelas merugikan negara dari segi pajak dan masyarakat Bali. Dengan demikian, kita (Bali, red) tak mendapatkan apa-apa dari wisatawan Tiongkok.

Nah, dalam bahasa bisnis, siapa mau bekerja untuk rugi? Jelas tak ada. Makanya sangat tepat langkah pemerintah menata kembali wisatawan asal Tiongkok.

Kita juga tak setuju semua wisatawan asal Tiongkok mengikuti praktik demikian. Masih banyak yang murni wisatawan, suka melihat pemandangan dan menikmati alam Bali, juga suka berbelanja di Bali.

Lihat saja wisatawan Tiongkok yang mengikuti paket tur ke Nusa Lembongan dan Nusa Penida. Menurut para guide semuanya suka makan, suka belanja, dan menghabiskan uangnya di Bali. Kita perlu wisman yang suka berbelanja.

Lihat saja Thailand, apa saja bisa dijual untuk wisman. Alias tak ada yang gratis bagi wisman asalkan dinikmati oleh warga Bali. Jadi, Bali jangan mau dirugikan.

Praktik menjual paket murah hanya tindakan oknum yang mau memanfaatkan kelemahan orang Bali. Salah satunya mudah disuap dan diiming-imingi sesuatu, padahal dalam jangka panjang merugikan kita sendiri.

Program bebas visa ke Bali, membuat sektor pariwisata Bali terguncang. Padahal secara teori, jumlah wisman ke suatu destinasi berupa daerah, resor, kawasan, atau objek meningkat jika daerah ini mampu mengembangkan diri dan menjalankan Sapta Pesona terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, dan ramah.

Baca juga:  Jabat Danjen Kopassus, Ini Pesan Cantiasa untuk Krama Bali

Faktor eksternal sangat memengaruhi pariwisata Bali. Kini, warga Bali menentukan nasibnya sendiri. Tidak dikunjungi wisatawan Tiongkok, Bali tetap ramai dikunjungi. Jadi, jangan sampai mereka masuk ke kawasan objek wisata, tidak berbelanja. Itu artinya mematikan krama Bali. Bagaimana pedagang Bali bisa laku dagangannya. Padahal, semuanya bermuara untuk mempertahankan budaya Bali. Praktis semua uang akan lari keluar Bali. Pemotongan peran krama Bali di tengah jalan ini membunuh krama Bali yang notabene adalah pelaku pariwisata Bali.

Semua tindakan ini harus segera dicegah agar krama Bali tak terus menjadi korban uluk-uluk nak len (dibohongi orang lain, red). Coba bayangkan tanpa budaya, pariwisata Bali tak ada apa-apanya. Bayangkan juga apakah pelaku pariwisata luar Bali pernah memberdayakan pelaku budaya Bali? Jawabnya pasti tidak. Orang Bali selama ini masih mandiri dalam bidang budaya, yang justru  dipakai barang dagangan oleh agen pariwisata.

Yang jelas, kini dunia pemasaran bergeser cepat. Model transaksi pun berkembang cepat. Apa yang tren saat ini besar kemungkinan juga akan tergusur. Kondisi ini terkondisikan saat teknologi menjadi pilihan praktis para pelaku dan penikmat pasar melakukan transaksi. Tak terkecuali dalam dunia pariwisata.

Dunia digital yang berkembang cepat membutuhkan pola yang tepat pula dalam melakukan pengelolaan pasar wisata. Untuk itu, pilihan untuk melakukan pengelolaan pariwisata melibatkan kalangan milenial sangatlah tepat. Kaum milenial yang tumbuh pesat di negeri ini hendaknya dikelola dengan profesional agar tak menjadi beban demografi.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.