Sejumlah pengunjung mengambil gambar di lokasi selfie yang terletak di Wanagiri. (BP/dok)

Oleh Dwi Yustiani, S.ST. 

“Sandang, pangan, dan colokan” menjadi sebuah anekdot yang sangat dekat dengan kehidupan kita, sebagai bagian dari generasi milenial negeri ini. Milenial tidak bisa tanpa makan, tidak bisa tanpa pakaian, dan tentu tidak bisa jika gadget mereka padam. Indonesia Millenial Report 2019 menunjukkan fakta bahwa 94,4 persen milenial telah terkoneksi dengan internet, bahkan 79 persen di antaranya membuka ponsel satu menit setelah mereka bangun tidur. Memasuki bonus demografi tahun 2020-2035, kelompok usia produktif (15-64 tahun) akan membeludak. Mengapa tidak kita manfaatkan untuk pengembangan pariwisata negeri ini?

Generasi milenial merupakan generasi terbesar sepanjang sejarah. Banyak peneliti menggunakan batasan tahun kelahiran 1980-an hingga 1990-an sebagai terbentuknya generasi milenial. Generasi ini memiliki nilai penting dalam komunitas masyarakat digital dan telah mampu menarik perhatian karena dipandang generasi ini mampu mengubah sifat konsumsi masa depan.

Milenial memiliki karakteristik sangat paham teknologi. Masing-masing negara memiliki karakteristik milenial yang berbeda-beda. Namun pada era globalisasi, maraknya media sosial, masuknya budaya kebarat-baratan, serta cepatnya perubahan, milenial di seluruh dunia bisa saja memiliki kemiripan. Milenial bertumbuh seiring dengan adanya internet di sekelilingnya.

Milenial familiar akan e-commerce, perangkat mobile, social media, e-travel seperti situs booking hotel, tiket pesawat, bahkan tiket masuk secara online, serta memberikan turut andil dalam promosi pariwisata secara tidak langsung. Dikutip dari research Asian Travel Leader Summit bertajuk Capturing the Asian Millenial Traveller, 60 persen milenial dunia bertempat di Benua Asia.

Bahkan, diprediksi pada tahun 2020, pengeluaran milenial untuk berwisata meningkat 1,6 kali. Wisatawan milenial Asia tentu berbeda dibandingkan wisatawan milenial dari Amerika, Eropa, Timur Tengah, bahkan Afrika. Pertama, dari kebiasaan berwisata, wisatawan milenial dari Asia menyukai berwisata dengan keluarga dan menyukai paket tur.

Berbeda dengan wisatawan milenial dari Eropa yang lebih menyukai berwisata dengan sahabat. Wisatawan milenial dari Timur Tengah dan Afrika memiliki karakteristik yang berbeda. Proporsi tertinggi untuk wisatawan individu dunia disumbang oleh kawasan ini. Bahkan, jika dilihat dari rata-rata lama tinggal, wisatawan milenial Timur Tengah dan Afrika memiliki peringkat tertinggi mencapai 10 hari dalam 1 trip.

Kedua, dari sisi budget yang dikeluarkan, wisatawan milenial Asia cenderung memiliki porsi besar di transportasi. Berbeda dengan wisatawan milenial Eropa dan Timur Tengah yang besar di porsi belanja eceran seperti suvenir dan makan.

Wisatawan milenial dari Amerika memiliki porsi besar untuk aktivitas berwisata. Pengeluaran wisata milenial dari kawasan ini juga merupakan yang terbesar mencapai 7.500 USD per tahunnya, berbeda dengan wisatawan milenial Asia yang pengeluaran setahunnya cuma 3.096 USD. Perbedaan karakteristik ini bisa digunakan sebagai gambaran dari subjek promosi pariwisata.

Baca juga:  IPM Bali Meningkat, Tertinggi di Kabupaten Ini

Pengguna internet dunia saat ini menurut Internet World Stats didominasi oleh warga di Kawasan Asia sebanyak 49 persen mengalahkan warga Eropa yang pengguna internetnya sebanyak 16,8 persen. Indonesia menempati urutan kelima dunia dan urutan ketiga di Asia sebagai pengguna internet terbanyak setelah China dan India dengan penggunanya 266,79 juta penduduk.

Hampir seluruh populasi di Indonesia saat ini telah bersentuhan dengan yang namanya internet. Internet memang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Pertukaran informasi sangatlah cepat dan sangat multidimensi. Apa pun bisa kita ketahui dengan berselancar di dunia maya. Inilah ciri khas dari the “Me” Generation atau yang lebih kita kenal dengan generasi milenial.

Milenial melihat teman atau influencer-nya memposting sesuatu yang baru dan menarik, kemudian sudah tentu kaum milenial lain yang melihat. Tanpa kita sadari, perilaku dari milenial itu sendiri merupakan salah satu kegiatan promosi yang tidak disadari.

Di sini terlihat adanya simbiosis mutualisme yang dicapai antara si milenial itu sendiri, dan pemerintah yang mendapatkan benefit dari perilaku tersebut. Ketika postingan dari milenial mendapatkan like yang banyak atau bisa menjadi inspirasi bagi kaum milenial lain merupakan hal yang membanggakan, di sisi pemerintah merupakan hal positif karena kaum milenial dipandang membantu dalam mempromosikan suatu wilayah.

Memasuki era bonus demografi yang menunjukkan kelompok penduduk usia produktif (15-64 tahun) membeludak, dalam arti kaum milenial mengalami masa jayanya saat terjadinya bonus demografi. Pada tahun 2020 awal dari bonus demografi, BPS memproyeksi bahwa jumlah penduduk mencapai 271,066 juta penduduk.

Banyak pihak memandang, bonus demografi merupakan momentum yang tepat untuk menggenjot perekonomian. Jangan sampai momentum bonus demografi malah menimbulkan permasalahan demografi baru. Dan kaum milenial pada saat itu sangat cocok dimanfaatkan sebagai promotor berbagai hal khususnya pariwisata yang telah mengalami pergeseran karakteristik wisata, dari konvensional ke digital.

Untuk memaksimalkan potensi milenial yang ada, tentu harus dibarengi dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan keautentikan dan originalitas dari pariwisata yang dikemas dalam balutan yang menarik perhatian para kaum milenial. Penambahan spot-spot yang instagramable tentu sangat signifikan mampu meningkatkan promosi pariwisata oleh para kaum milenial.

Terkhusus untuk Indonesia yang memiliki beragam budaya, puluhan ribu pulau, ratusan ribu spot berfoto tentu sangatlah disayangkan untuk sekadar digunakan para wisatawan konvensional. Soft promotion oleh kaum milenial bisa menjadi pilihan cerdas di era wisata digital saat ini.

Penulis, statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.