Arist Merdeka Sirait (kanan) saat bertemu koordinator Ashram Gandhi Puri Sevagram, guna mengklarifikasi dugaan kasus pedofilia, Rabu (13/2). (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Dugaan kasus Pedofilia yang menyorot pemilik Ashram Gandhi Puri Sevagram, di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung, kembali mencuat. Bahkan, kasus ini sudah terdengar oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Pada Rabu (13/2), Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, turun langsung ke lokasi Ashram Gandhi Puri Sevagram, untuk meminta klarifikasi kepada pemiliknya, Agus Indra Udayana. Sayangnya, yang dicari Komnas PA pusat, tidak ada di lokasi.

Di sana, Arist Merdeka Sirait, hanya bertemu dengan sejumlah anak ashram. Dia nampak kecewa dan menyayangkan, tidak dapat bertemu langsung dengan Agus Indra Udayana, atau akrab disapa anak ashram setempat, Guruji.

Padahal, dia mengaku sengaja datang jauh-jauh dari pusat untuk memperjelas informasi dugaan kasus pedofilia yang belakangan kian marak beredar di tengah masyarakat. “Sayang sekali orangnya tidak ada. Kata anak-anak ashram, Ia sedang ada kegiatan spiritual di India,” katanya.

Arist berupaya menggali lebih jauh bagaimana aktivitas anak-anak setempat. Dia banyak menerima informasi dari Koordinator Ashram Gandhi, Wayan Saridika. Mulai dari jumlah anak ashram, aktivitasnya, hingga mengecek seluruh ruangan ashram, termasuk kamar sang pemilik dan kamar anak-anak ashram.

Total, pada ashram itu saat ini dihuni sebanyak delapan orang, dari total 27 orang anak ashram. Sisanya dikatakan sudah tinggal di luar ashram.

Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan Direskrimsus Polda Bali mengenai dugaan kasus ini. Sudah sejauh mana penanganannya dan bagaimana dengan informasi terkini para korbannya.

Tetapi, tindaklanjut kasus ini oleh Komnas PA menjadi sedikit aneh, karena Arist mengaku belum pernah bertemu anak yang menjadi korban dugaan kasus Pedofilia di ashram itu. Tetapi, Komnas PA sudah melakukan upaya klarifikasi kepada pihak yang dicurigai.

Baca juga:  Paksebali Andalkan "Dewa Masraman" hingga Ragam Kerajinan

Malah, ia meminta informasi dari semua pihak yang mengaku mengenal korban, pihaknya juga ingin segera menemuinya untuk meminta keterangan, guna membuat gamblang kasus ini. Sejauh ini belum jelas, siapa, dari mana dan berapa jumlah korbannya. Laporan ke pihak kepolisian juga tidak ada.

Sementara, anak-anak ashram sendiri mengaku cukup kaget dengan mencuatnya lagi isu ini. Dulu, kasus serupa pernah mengemuka sekitar 2008. Demikian juga pada 2015.

Tetapi saat itu tidak ada satu kasus pun terbukti hingga ke tahap proses hukum. Padahal, menurut Wayan Saridika, isu adanya dugaan kasus pedofilia tidak jelas siapa korbannya, dari mana dan kapan terjadi.

Sebab, dia sendiri sejak tinggal di sana pada 2011, merasa tidak pernah ada anak-anak ashram menjadi korban kasus pedofilia. “Kami dengar infonya di media sosial. Tetapi, di sini tidak ada kasus seperti itu. Malah, sudah banyak yang dibantu sampai sukses. Dari sekolah hingga jadi dokter,” kata Saridika, yang kini sedang menempuh pendidikan magister komunikasi di IHDN ini.

Saridika yang mengaku ditunjuk jadi koordinator sejak 2016 ini, mengatakan pemilik ashram Indra Udayana, dikatakan sudah mengetahui mencuatnya informasi dugaan kasus pedofilia itu. Menurut Saridika, Indra Udayana justru menanggapi santai isu ini.

Dia dikatakan meminta anak-anak ashram tidak terpengaruh dengan isu-isu yang tidak jelas. “Kalau pun ada pihak-pihak yang datang ke ashram menanyakan kasus ini, beliau berpesan agar langsung diklarifikasi saja,” kata Saridika. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.