Made Suweca meninggalkan ruangan usai persidangan, Selasa (22/1). (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sidang dugaan korupsi hibah pengadaan bibit sapi Kelompok Tani Sari Amerta, Desa Carangsari, Petang, Badung, Selasa (12/2) masih mengagendakan pemeriksaan saksi. Namun di luar saksi dari dinas peternakan, terdakwa I Made Suweca, mulai menyerempet pihak lain dalam dugaan korupsi pengadaan bibit sapi itu. Salah satunya adalah oknum anggota DPRD Badung.

Terdakwa mengaku bahwa dalam hibah ini dia difasilitasi oleh oknum anggota dewan. “Saya bertemu anggota dewan itu di Puspem Badung,” katanya usai sidang.

Namun saat dikejar siapa oknum anggota dewan dimaksud, terdakwa merahasiakannya. Dia hanya mengatakan bahwa oknum anggota dewan itu menawari dirinya mengajukan proposal dana hibah. Bahkan, anggota dewan tersebut juga menyatakan siap membantu.

Suweca yang tidak lancar baca dan tulis menuruti saran anggota dewan yang dikenalnya. Bahkan, Suweca mengaku tak paham dengan proposal yang dia ajukan ke Pemkab Badung.

Baca juga:  Parpol, Korupsi, dan Peradaban

Berkat bantuan dewan tersebut juga dana hibah yang diajukan bisa cair. “Saya hanya ngalih (mencari) tekenan (tanda tangan) saja. Ada tukang ketik yang membuatkan proposal,” katanya.

Dalam kasus tersebut, Suweca justru mengaku menjadi korban dan dijadikan komoditi politik. Padahal dia sendiri tidak mencalonkan diri. “Saya hanya kelas 2 SD, bagaimana bisa maju jadi dewan. Ini persaingan politik, sehingga saya dikorbankan,” katanya.

Yang jelas, dirinya tidak ada niatan korupsi. Dana hibah Rp 200 juta dari Pemkab Badung sudah digunakan membeli bibit sapi.

Yakni membeli sepuluh ekor sapi. Nah, untuk pembelian sapi sendiri Suweca mengaku bingung karena beberapa kali disuruh menukar karena dibilang tidak sesuai standar. (Miasa/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.