Wisatawan melewati gunungan sampah kiriman di Kuta. (BP/edi)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sampah kiriman di Pantai Kuta, saat ini sudah mulai berkurang. Namun, kini muncul masalah baru.

Akibat kekroditan yang terjadi di TPA Suwung, tumpukan sampah kiriman yang sudah terkumpul di Kuta, menggunung karena belum bisa terangkut semua. Kondisi ini tentunya menjadi pemandangan yang kurang enak dilihat serta menimbulkan bau yang cukup menyengat.

Kepala DLHK Badung, Putu Eka Merthawan tidak menampik hal itu. Bahkan, akibat kendala di TPA Suwung, petugas kebersihan dari DLHK Badung, harus kerja ekstra.

Terkait kendala yang dihadapi untuk pengangkutan sampah ini, Eka Merthawan menyebutkan, ini diakibatkan oleh rusaknya Ekskavator yang dimiliki Badung di TPA Suwung. “Ekskavator milik Badung yang ada di TPA Suwung rusak akibat penggunaan yang dilakukan selama 24 jam,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (6/2).

Menurutnya, selain penggunaan selama 24 jam, kerusakan peralatan ini akibat volume sampah yang terlalu overload pasca cuaca ekstrem beberapa waktu lalu. Untuk itu, pihaknya menyebutkan kalau petugas kebersihan harus bekerja lembur untuk mengantisipasi kekroditan menuju TPA Suwung. Karena, apabila pekerjaan dilakukan di atas pukul 09.00 wita, tentu akan mengganggu lalu lintas. Selain itu, juga bau yang ditimbulkan, akan mengganggu pengguna jalan.

Baca juga:  Gianyar Raih Tropi dan Penghargaaan Kalpataru 2018

Pengangkutan ke TPA suwung dikatakan hanya bisa dilakukan satu kali saja. Karena, truk pengangkut harus antre untuk bongkar muat disana. Akibat kekroditan ini, petugas angkur sampah bisa antre hingga 7 jam di TPA suwung.

Dikatakannya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh adanya penataan disana. “Dari lahan yang ada sekitar 32 hektar, 22 hektar ditata oleh pemerintah pusat dan sekarang sisanya menjadi 10 hektar untuk menampung sampah. Dari 10 hektar itu akan ditata menjadi sanitary landfill 5 hektar dan waste to energy 5 hektar,” ucapnya.

Sementara, terkait kondisi angin barat yang masih terjadi, di pantai barat bagian Utara, memang sampah kiriman masih ada. Seperti di Pererenan, Batu Belig, Petitenget.

Sedangkan, untuk di pantai Barat bagian Selatan, yaitu di wilayah Jimbaran, kini mulai muncul sampah rumput laut. “Petugas kami terpaksa harus bekerja lembur, agar bisa mengangkut lebih awal untuk dibawa ke TPA suwung,” terangnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.