sapi
Sapi Bali. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Setiap tahunnya, Tabanan mengalami penurunan populasi Sapi Bali. Untuk mempertahankan sekaligus menekan penurunan populasi sapi Bali ini, pusat menggelar program Siwab (Sapi Indukan Wajib Bunting).

Berdasarkan data dari bidang Peternakan Dinas Pertanian Tabanan, populasi sapi di Bali selama lima tahun terakhir mengalami penurunan. Pada 2014 jumlah sapi Bali tercatat 52.916 ekor, turun menjadi 51.567 ekor pada 2015. Populasi sapi Bali kembali turun menjadi 50.906 ekor pada 2016 dan 45.268 ekor pada 2017 dan menjadi 43.842 ekor pada 2018.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Tabanan, Wayan Suamba, Minggu (3/2) mengatakan penurunan populasi Sapi Bali di Tabanan salah satunya karena mulai menurunnya jumlah sapi yang diternak karena kendala berkurangnya lahan. “Petani  terutama yang perseorangan sekarang rata-rata punya sapi 1-2 ekor. Padahal yang dianjurkan memiliki sapi setidaknya 4-5 ekor. Tetapi mereka tidak bisa memelihara banyak karena lahan untuk ngangon sapi semakin berkurang dan sulit juga mendapatkan pakan,” ujar Suamba.

Alasan ekonomi juga menjadi kendala sulitnya menekan angka penurunan populasi Sapi Bali. Sebab, petani kebanyakan menjual sapinya jika sudah siap jual dibandingkan memeliharanya agar bisa bereproduksi.

Alasan ketiga adalah kesulitan petani mengawinkan sapi betinanya karena untuk kawin suntik, petani harus mengeluarkan dana sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per sekali suntik.

Untuk mempermudah petani dalam mengawinkan sapi betinanya sekaligus mempertahankan populasi sapi Bali, pemerintah pusat menurunkan program Siwab, dimana petani dibebaskan dalam pembiayaan. ‘’Mulai dari semen beku untuk kawin suntik dan tenaga penyuntiknya ditanggung pemerintah. Bahkan petugasnya datang langsung ke rumah,’’ ujar Suamba.

Baca juga:  Masih Primadona, Harga Sapi Bali Meroket Jelang Idul Adha

Petugas juga tak hanya menyuntik tetapi juga memantau hasil kawin suntik tersebut dan mencatat berapa sapi betina yang berhasil hamil serta yang melahirkan anak sapi. Dari data tahun 2018, target program Siwab adalah 6.000 sapi betina. Telah tercapai  9.297 ekor.

Dari 9.297 ekor yang dilakukan kawin suntik ini, 4.594 ekor dinyatakan berhasil bunting dan 815 ekor tidak bunting. Sisanya masih terus dilakukan pemantauan.

Sementara sapi yang melahirkan di tahun 2018 dari program Siwab ini tercatat 5.302 ekor dengan 2.802 ekor jantan dan 2.500 ekor betina. Ada sapi yang masih dalam pemantauan. “Sapi betina bisa diperiksa bunting atau tidak setelah tiga bulan dilakukan kawin suntik. Sementara masa kehamilan sapi adalah sembilan bulan. Jadi ada sapi yang kawin suntik di 2018 baru akan terdata di 2019 untuk kehamilan dan kelahirannya,” jelas Suamba.

Pada Januari 2019, tercatat 772 ekor sapi betina yang menjalani kawin suntik. Terdata juga 219 sapi yang sudah bunting lewat program Siwab dan sudah ada 308 ekor sapi yang lahir. ‘”Untuk yang hamil dan lahir ini hasil program Siwab 2018,’” tutur Suamba. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.