BANGLI, BALIPOST.com – Sebuah inovasi dikembangkan Desa Demulih, Susut untuk memudahkan masyarakat mengakses internet. Inovasi itu yakni berupa pemasangan wajan bolic di rumah-rumah penduduk.

Tak hanya memudahkan masyarakat mengakses internet, inovasi yang dikembangkan sejak akhir 2017 itu juga mampu mengantar Desa Demulih menjuarai Lomba Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi 2018.

Perbekel Desa Demulih, I Nyoman Wijana Kamis (31/1) mengungkapkan, pengembangan wajan bolic ini dilatarbelakangi dari adanya aspirasi masyarakat yang menginginkan pelayanan online di desa bisa diakses secara gratis dari rumah, tanpa harus mengeluarkan kuota internet. Untuk menjawab aspirasi masyarakat itu, pihaknya kemudian mencoba mencari solusi dengann mengembangkan wajan bolic.

Wajan bolic yang dipasang di rumah penduduk ini memiliki cara kerja sebagai penangkap sinyal wifi yang dipancarkan dari kantor desa. Dengan pemasangan alat itu, wifi yang ada di kantor desa bisa dimanfaatkan secara gratis oleh masyarakat dari rumah.

Didampingi Kaur Keuangan I Kadek Galiarta, dijelaskan bahwa wajan bolic bukan merupakan alat penemuan baru. Namun khusus di Desa Demulih, alat sederhana ini belum pernah digunakan sebelumnya oleh masyarakat.

Dalam pengembangan wajan bolik ini, pihak desa awalnya belajar melalui internet. Selain juga berkonsultasi langsung dengan tenaga tekhnis pemasang tower pemancar di sekitar desa.

Baca juga:  Tiga Desa di Klungkung Ini Bertahun-tahun "Blank Spot"

Sesuai namanya wajan bolic dibuat menggunakan wajan atau penggorengan. Di tengahnya dipasangi sebuah pipa paralon berisi rangkaian kabel dan sebuah alat penangkap sinyal.

Wajan bolic ini dipasang di atas atap rumah warga. Dengan posisi alat menghadap ke arah antena pemancar WiFi yang dipasang di kantor desa.

Sejak inovasi ini mulai diterapkan, hingga saat ini sedikitnya sudah ada 30 rumah warga yang bisa menikmati akses internet secara gratis dengan pemasangan wajan bolic. Mengingat alatnya terbilang cukup sederhana, radius maksimal sinyal yang mampu ditangkap wajan bolic cukup terbatas yakni hanya 500 meter. “Sebenarnya bisa sampai 1 kilometer, namun sinyalnya tidak stabil,” ujarnya.

Dalam penggunaan wajan bolic, hal yang biasanya menjadi hambatan sinyal tidak bisa diterima dengan baik yakni karena terhalang oleh pepohonan yang rimbun. Selain itu cuaca yang berkabut juga sering menjadi kendala warga tak bisa menikmati sinyal internet.

Meski demikian, inovasi pengembangan wajan bolik ini diakui telah memberi manfaat bagi warga. “Inovasi ini berhasil mengantar desa kami mendapat juara I Lomba Desa tingkat provinsi tahun lalu. Dan sejak kami mengembangkan inovasi ini, sudah banyak desa-desa yang datang untuk belajar ke sini,” kata Wijana. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.