Salah satu warga Banjar Sandan, Desa Bangli, Tabanan dirawat di RS. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Ratusan warga Banjar Sandan, Desa Bangli mengalami diare. Diduga penyebab diare ini karena air yang diminum tanpa dimasak.

Akibat peningkatan kasus diare ini membuat Banjar Sandan, Desa Bangli dinyatakan KLB (Kejadian Luar Biasa) diare. Kepala Bidang Penanganan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Tabanan, dr Ketut Nariana saat dikonfirmasi membenarkan status KLB tersebut. “Secara program kasus diare di Banjar Sandan Desa Bangli dinyatakan KLB. Khusus di daerah itu saja,” ujarnya, Selasa (15/1).

Ia melanjutkan suatu daerah dinyatakan KLB jika terjadi peningkatan kasus dua kali lipat dari biasanya atau dari ada menjadi ada. Menurutnya kasus diare di Banjar Sandan, Desa Bangli ini mencapai ratusan dan meningkat dua kali dari biasa sehingga dinyatakan KLB.

Dinas Kesehatan melalui Puskesmas telah melakukan penanganan baik pembinaan dan pengobatan bagi penderita. “Dari penelurusan, terjadinya kasus diare ini karena warga minum air mentah dan belum dimasak,” ujarnya.

Dari informasi yang diperoleh, warga mulai menderita diare sejak Minggu (13/1) sore.
Ketika itu, sejumlah warga memilih untuk berobat ke seorang bidan setempat karena tak tahan dengan sakit perut yang dialami.

Jumlah penderita diare semakin bertambah. Pada Selasa (15/1) sudah mencapai 105 orang.

Kepala Seksi (Kasi) Surveilans dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Tabanan, I Nengah Suarma Putra mengatakan dari 105 pasien diare, 46 diantaranya mengalami diare pada Minggu (13/1), 56 orang pada Senin (14/1) dan hingga Selasa siang sebanyak 3 orang. Dari jumlah tersebut, 9 orang di antaranya sempat dirawat.

Baca juga:  Diare, Ini 5 Cara Mengatasinya

Rinciannya, 6 orang di antaranya dirawat di Puskesmas Baturiti I, 1 orang di klinik, rumah sakit swasta 1 orang, dan satu orang di BRSU Tabanan. “Sebagian besar dirawat jalan. Rata-rata kondisinya sudah mulai membaik,” katanya.

Salah seorang warga Banjar Sandan I Ketut Yastini (33) merasakan sakit perut sejak Minggu (13/1). “Gejala awalnya panas, lemas, perut terasa mules, pusing dan mendadak mencret. Sehari bisa 4 sampai 5 kali bolak balik ke kamar mandi,” katanya.

Menurutnya, faktor penyebab bukan dari makanan. Keluarga makan dengan lauk tahu, tempe, ikan dan sayur seperti biasa. Kemudian juga di desa tak ada warga yang memiliki acara adat atau upacara lainnya. “Selain itu untuk air minum sehari-hari sudah biasa kami minum air langsung dari pamsimas milik desa. Tanpa dimasak terlebih dahulu. Bukan saya saja kena, banyak warga lainnya,” ungkapnya.

Hal yang sama juga didialami warga lainnya I Ketut Suarnata (48). Dirinya terkena penyakit diare sejak Senin (14/1) dengan gejala perut mules, disertai panas, badan lemas, pusing hingga harus bolak balik kamar mandi untuk buang air. Beruntung ia langsung berobat sehingga tak harus ke rumah sakit.

Suarnata mengatakan, petugas medis sudah datang ke rumahnya untuk mengambil sampel air minum dan makanan. Menurutnya kejadian ini baru pertama kali terjadi di desanya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.