Umat Hindu saat ngaturang ayah di Pura Dasar Buana, dalam rangkaian upacara nyenuk dan makebat daun mangun ayu. (BP/gik)

 

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Setelah pelaksanaan puncak karya, rangkaian karya agung di Pura Dasar Buana Gelgel, dilanjutkan dengan prosesi nganyarin. Di tengah prosesi nganyarin ini, Minggu (6/1), digelar upacara Nyenuk dan Makebat Daun Mangun Ayu, di Pura Dasar Buana Gelgel.

Ini sebagai tahapan upacara ke 27, dari Karya Agung Mamungkah, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung Tawur Panca Wali Krama dan Mahayu Jagat Marisudha Bumi, dari total 33 rangkaian upacara.

Koordinator pelaksanaan karya, Dewa Ketut Soma, disela-sela pelaksanaan ritual, menyampaikan pelaksanaan nyenuk ini, artinya majenukkan. Rangkaian majenukkan mengandung makna madelokkan atau masikrama. Ini mengandung nilai luhur dari pelaksanaan ritual keagamaan Hindu Bali yang sarat budaya leluhur, sebagai upaya nyejerang dresta masemeton.

Artinya, dari pelaksanaan ritual dimaksudkan agar umat Hindu di Bali, selalu memperkuat persatuan. Ini sebagai wujud peran Pura Dasar Buana sebagai tempat pemersatu umat dari seluruh soroh dan garis keleluhuran.

Dewa Soma menegaskan, pada saat inilah, dikatakan Ida Batara, khususnya Panca Dewata, mengutus iring-iringannya menuju Pura Dasar Buana, yang bisa dimaknai dari warna busana para pangiringnya manut warna panca dewata.

“Sehingga, sarana yang di bawa saat majenukkan itu adalah persembahan berupa palebungkah, palegantung, palerambat dan lainnya, yang dipersembahkan sebagai sarining upakara kepada para dewata,” kata Dewa Ketut Soma.

Setelah kehadiran Panca Dewata Ke Pura Dasar Buana dan pura lainnya yang juga katuran karya, banten panyenuknya baru dihaturkan di masing-masing palinggih. Sementara, iring-iringan Ida Batara malinggih di natar Pura Bale Agung, untuk selanjutnya katuran sesajen dan persembahan lainnya. Setelah itu terlaksana dengan baik, baru upacara nyenuk, makebat daun mangun ayu, dilaksanakan bersama-sama dengan ribuan umat yang sudah tangkil ke Pura Dasar Buana. Ribuan warga dari seluruh Bali, begitu antusias mengikuti rangkaian karya ini, yang bertepatan dengan Manis Kuningan.

Baca juga:  Nyenuk ke Pura Dasar Bhuana, Memperat Persatuan dan Menjaga Bali

Pelaksanaan upacara dipusatkan di enam pura dengan pemuput karya dari sulinggih yang berbeda-beda. Seperti di Pura Dasar Buana, yakni kapuput Ida Pedanda Gde Putra Tembau dan Ida Pedanda Gde Jelantik Sogata. Pelaksanaan upacara di Pura Bale Agung, kapuput Ida Pedanda Gde Jumpung P. Keniten dan Ida Dalem Surya Darma Sogata.

Sementara di Pura Melanting, yakni kapuput Ida Pedanda Gde Agra Kemenuh. Pelaksanaan upacara di Pura Taman Beji oleh Ida Pedanda Gde Oka Wadani, di Pura Puseh oleh Ida Pedanda Gde Made Tembau dan Ida Pedanda Gde Wayan Darma. Terakhir, di Pura Yasa kapuput Ida Pedanda Gde Rai Pidada.

Seluruh pelaksanaan karya berjalan dengan tertib dan lancar, di tengah antusias ribuan umat Hindu yang tinggi, terhadap keberadaan Pura Dasar Buana dengai simbol pemersatu rakyat Bali.

Setelah pelaksanaan puncak karya, pada 31 Desember lalu, dilanjutkan dengan rangkaian nganyarin, Ida Batara di Pura Dasar Buana ini katur nyejer selama sebelas hari. Selama nyejer ini, setiap pemerintah kabupaten melaksanakan bakti penganyar, sebelum masineb pada 11 Januari 2019 nanti. Seperti Minggu (6/1), bakti penganyar dilaksanakan dari Pemkab Klungkung. Dihadiri seluruh pimpinan OPD, dipimpin langsung Bupati Klungkung Nyoman Suwirta dan Wakil Bupati Made Kasta.

Setelah pelaksanaan bakti penganyar, baru nanti diilanjutkan dengan ritual meajar-ajar pada 14 Januari 2019. (bagiarta/baliopost)

 

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.