Gamer sedang bermain Mobile Legend di ponselnya. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – “Ta, PUBG yuk,” ujar suara dari aplikasi Discord, yang kerap dipakai para gamer untuk berkomunikasi selagi mereka bermain online.

Ata pun langsung sigap menyahuti ajakan Narendra, teman sekelasnya yang juga hobi bermain game online. “Ayo”.

Untuk bermain game online ini, mereka perlu layanan broadband yang mumpuni. Sebab hanya layanan broadband yang berkualitas saja yang bisa membuat game online bisa diakses tanpa jeda. “Kalau internetnya suka ngadat, gamenya jadi nge-lag dan kita juga bisa mati karena ditembak musuh,” sebut Ata yang punya nama lengkap Ragnala Pratama itu.

Ata yang menggunakan layanan Telkomsel ini mengaku jarang mengalami lag saat bermain game online. Pasalnya, jaringan Telkomsel sudah menjangkau pelosok sehingga dimana pun ia bermain, hampir dipastikan ia memperoleh layanan 4G atau LTE.

Para pemain game online ini bisa lupa waktu saat bermain game. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam, bahkan seharian. Hanya untuk bermain game dan berkomunikasi lewat Discord dengan sesama gamer.

Pengguna ponsel sedang bermain Mobile Legend. (BP/istimewa)

Tak jarang kondisi ini pun membuat para orangtua khawatir. Wajar saja ortu khawatir, soalnya selain membuat lupa waktu, game online juga menghabiskan biaya tak sedikit karena layanan broadband dan membeli sejumlah aksesoris serta perangkat di game online.

Bahkan di sejumlah daerah, terdapat anak-anak yang melakukan tindakan kriminal hanya karena ingin memperoleh uang untuk bermain game online. Kekerasan terhadap anak lain yang dipicu permainan game online juga terjadi dan diekspose media massa.

Namun, tak melulu bermain game online ini negatif. Hal ini dikemukakan Rezaly Surya Alfgany, Manager Local Developers Telkomsel yang ditemui belum lama ini. Ia mengutarakan game online tak sepenuhnya berdampak buruk bagi pemainnya. Saat ini ada olahraga elektronik (eSport) yang mengubah anggapan main game online itu negatif.

eSport, dikatakannya, sedang berkembang pesat di Indonesia. Terbukti sejumlah tim eSport Indonesia mampu berbicara di ajang kompetisi internasional. Sebut saja tim Recca eSport, NXL, atau CS:GO yang kerap juara dalam ajang eSport bergengsi, baik skala nasional maupun internasional. Bahkan, salah satu pemain CS:Go asal Indonesia telah direkrut China untuk bermain Counter Strike 2.

Disebutkan Rezaly, eSport adalah olahraga yang terbuka bagi siapa pun. Sebab eSport tidak membutuhkan standar fisik layaknya olahragawan fisik konvensional. Untuk mengubah stigma negatif gamer, ia mengatakan Telkomsel menggelar sejumlah turnamen. “Stigma negatif dianggap buang waktu. Untuk itu, Telkomsel berupaya menggelar sejumlah turnamen eSport. Bahkan kami juga memiliki tim eSport yang memberikan edukasi dan coaching eSport,” sebutnya.

Dikutip dari newzoo.com yang merupakan website terkait eSport, game online, dan telepon selular, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yang menghabiskan 880 juta dollar AS (sekitar Rp 11 miliar) untuk bermain game. Indonesia berada di peringkat ke-16 untuk pendapatan dari game terbesar di dunia.

Dari gender, sebesar 56 persen di antaranya merupakan laki-laki yang menggunakan PC/laptop, dengan rentang usia 10-50 tahun. Sementara 44 persen sisanya adalah gamer perempuan dengan usia 10-50 tahun. Atlet eSport Indonesia terhimpun dalam IeSPA (Indonesia eSport Association) yang saat ini masih menginduk pada organisasi FORMI (Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia).

Di beberapa negara seperti Amerika dan negara-negara Eropa, atlet eSport merupakan profesi yang menjanjikan. Pemain eSport akan dibayar puluhan juta rupiah untuk bermain game.

Indonesia sendiri sebut Rezaly masih minim atlet eSport. Namun, dalam Asian Games 2018 sudah diadakan eksibisi eSport. Bahkan, eSport akan diresmikan sebagai olahraga oleh Olympic Council of Asia pada Asian Games 2022 di Hangzhou, Cina.

Monetisasi

Menurut Rezaly, potensi memonetisasi game online di Indonesia cukup besar. Bahkan, game ini kini menjadi salah satu pendapatan Telkomsel di sektor layanan digital.

Head of Digital Lifestyle Telkomsel, Crispin Tristram mengatakan sebagai operator seluler, Telkomsel bersama Singtel Group memiliki aset besar untuk mengembangkan ekosistem gaming di kawasan dan oleh karenanya ingin menghubungkan pelanggan Telkomsel, khususnya para komunitas games di Indonesia dengan komunitas yang berada di Asia Pasifik.

“Seperti halnya tren di dunia, kami juga melihat bahwa di Indonesia telah terjadi peningkatan popularitas games berbasis mobile. Bahkan sekarang ini telepon seluler telah menjadi perangkat utama yang digunakan untuk bermain games. Oleh karena itu, kami sangat antusias untuk berpartisipasi dalam upaya pembangunan ekosistem games di kawasan Asia Pasifik melalui PvP eSports Championship,” ungkap Crispin.

Crispin menambahkan bahwa dalam beberapa tahun belakangan Telkomsel sendiri sudah mulai menggarap industri eSports di Indonesia. Salah satunya dengan menggelar turnamen eSports terbesar di Indonesia, yaitu Indonesia Games Championship (IGC) pada tahun 2017 dan 2018 sebagai wadah bagi para penggemar eSports di tanah air.

Baca juga:  Telkomsel Bangun Jaringan di Pulau Tertinggal, Terluar dan Terdepan

Hingga kini, market share Telkomsel di industri games Indonesia mencapai lebih dari 22 persen dan tercatat 60 juta pelanggan Telkomsel memainkan mobile games di handphone-nya setiap bulan.

Salah satu atlet eSport sedang bermain DOTA 2 mewakili Indonesia dalam ajang PvP eSports Championship yang berlangsung di Suntec Convention Centre, Singapura. (BP/istimewa)

Dalam laporannya, laman newzoo.com menyebutkan Asia Tenggara masih merupakan kawasan yang potensial bagi eSport. Kawasan ini pada 2019 masih merupakan wilayah yang paling tinggi pertumbuhan penonton eSport-nya. Diperkirakan akan mencapai 31,9 juta di 2019. Terlebih lagi, game seperti Dota 2, Hearthstone, NBA 2K, and Tekken 7 akan dipertandingkan dalam SEA Games 2019.

Sebenarnya, eSport tak hanya menjanjikan bagi para atletnya. Dari sisi perusahaan yang bergerak di bidang digital lifestyle pun, eSport memberikan banyak peluang untuk digarap. Sebut saja untuk streaming pertandingan eSport, pada 2018 angkanya mencapai 900 juta dolar AS.

Grafik total pendapatan eSport secara global. (BP/dokumen Newzoo)

Menggiurkannya pasar eSport ini juga yang membuat Telkomsel menggarapnya lewat platform Dunia Games. Manager Digital Regional Expansion Telkomsel Bali Nusra, Indra D. Hariadi mengatakan saat ini Telkomsel berupaya membuat Dunia Games lebih dikenal komunitas gamers, sehingga Dunia Games tidak hanya dikenal sebagai media platform pembayaran. Tapi juga sebagai platform event yang bisa dinikmati seluruh player di wilayah Indonesia.

Dunia Games sendiri merupakan one stop portal yang menyediakan berbagai kebutuhan gamer mulai dari berita, payment gateway voucher game, dan juga menyediakan wadah kompetisi bagi para gamers. “Di samping itu, Telkomsel juga memberi kepuasan kepada gamer yang butuh kecepatan mobile data tinggi serta latensi yang rendah sebagai bentuk komitmen kami agar lebih serius lagi dalam menggarap segmen gamer di wilayah Tanah Air,” ujarnya.

Bisnis Digital

eSport hanya salah satu bagian dari pengembangan bisnis digital Telkomsel. Seiring majunya perkembangan teknologi digital, bisnis digital untuk memenuhi kebutuhan digital lifestyle pun terus digarap.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan saat ini bisnis digital menjadi kontributor pertumbuhan Telkomsel yang signifikan sesuai fokus perusahaan untuk tetap menjadi yang terdepan dalam membangun ekosistem digital yang produktif dan konstruktif berbasis Device, Network, dan Application (DNA). Pada kuartal pertama 2018, bisnis digital Telkomsel tumbuh 24,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini berkontribusi tehadap 48% dari total pendapatan Telkomsel atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 37,7%.

“Kami tetap fokus mengembangkan ekosistem digital, di antaranya dengan terus menggelar infrastruktur jaringan secara agresif, terutama BTS berbasis teknologi mobile broadband. Kami pun menyediakan berbagai pilihan solusi layanan digital untuk melayani kebutuhan digital lifestyle pelanggan dan masyarakat Indonesia,” jelas Ririek.

Fokus Telkomsel di bisnis digital terlihat dari keseriusan menggelar infrastruktur jaringan broadband. Sepanjang kuartal pertama tahun 2018, Telkomsel membangun lebih dari 6.900 BTS baru yang seluruhnya merupakan BTS 4G. Secara total hingga kuartal pertama tahun 2018 Telkomsel telah menggelar lebih dari 167.000 BTS di seluruh Indonesia, meningkat 23,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari seluruh BTS tersebut, sekitar 70% di antaranya merupakan BTS 3G dan 4G.

Dalam periode yang sama, penggunaan perangkat 3G dan 4G di jaringan Telkomsel meningkat 35,2%. Kini Telkomsel melayani lebih dari 108 juta pelanggan data, di mana 55 juta di antaranya merupakan pelanggan 4G. Penggunaan layanan data (payload) pun meningkat drastis sebesar 145,8% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.

Pertumbuhan juga terjadi untuk layanan digital Telkomsel sebesar 61,1% yang dikontribusi meningkatnya penggunaan berbagai layanan digital lifestyle, seperti video, musik, games, dan value added service (VAS); digital advertising; digital payment T-Cash; digital banking; dan Internet of Things (IoT). “Kami senantiasa berupaya mendorong pemanfaatan jaringan broadband secara lebih optimal sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi pelanggan. Untuk itu, Telkomsel terus melakukan berbagai improvement untuk menyajikan pengalaman mobile digital lifestyle terbaik kepada para pelanggannya,” jelas Ririek.

Pengembangan ekosistem digital di Indonesia memicu lahirnya berbagai solusi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong berbagai perubahan ekonomi, sosial, dan budaya di masyarakat. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Telkomsel membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan di industri telekomunikasi untuk bersama-sama memajukan negeri. Ke depannya, Telkomsel terus melanjutkan pengembangan ekosistem digital untuk memperluas jangkauan dan ragam layanan digital sebagai fondasi penting dalam transformasi digital Telkomsel. “Terbentuknya ekosistem digital menjadi fondasi utama Telkomsel untuk menjadi digital telecommunication company yang sukses, untuk Indonesia yang gemilang,” pungkas Ririek. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.