Ilustrasi. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sehari lagi kita memasuki babak baru dalam pertarungan hidup di berbagai sektor. Tahun 2019 yang merupakan tahun dengan shio Babi Tanah akan menjadi tahun penuh kejutan.

Setidamnya bagi Bali. Nasib perekonomian Bali juga akan dipertaruhkan. Walaupun berbagai kalangan memasang target optimis dengan angka di 6,00 – 6.40 persen tanpaknya tantangan itu relatif berat.

Bali juga berpotensi mengalami tantangan serius. Tekanan politik, pergerakan dunia digital, dan lemahnya penguatan ekonomi alternatif menjadi ancaman serius.

Tahun 2019, sampai memasuki semester I, ekonomi Bali akan dihadapkan pada tantangan dan kerawanan bidang politik dan ekonomi. Kampanye politik yang cenderung bergerak pada pendekatan ekonomi pragmatis menimbulkan gesekan.

Masyarakat ekonomi terbelah menjadi dua kubu. Kondisi ini berlangsung hingga April 2014. Ini membuat masyarakat ekonomi tidak fokus. Ini secara ekonomi jelas sangat rawan.

Laju pertumbuhan dunia digital juga membuat pelaku pasar masih beradaptasi. Ini menjadi hambatan karena akan menimbulkan perubahan cara berbisnis. Dan tantangan paling serius tentu perang dagang yang tak kunjung usai. Ini merupakan risiko global.

Mencermati berbagai potensi ekonomi 2019 dan risikonya bagi Bali, ekonom diantaranya Viraguna Bagoes Oka, Dr. I Gde Made Sadguna serta Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali Azka Subhan sepakat perekonomian Bali 2019 umumnya positif. Namun, besarnya hambatan mengharusan Bali mengelola tahun 2019 secara profesional.

2019 harus dikelola sebagai tahun produktivitas dan kualitas. Tahun ini jangan dibiarkan lewat sebagai tahun politik tanpa ada upaya melakukan recovery dan move on terhadap penguatan ekonomi Bali.

Perekonomian dunia di Tahun Babi Tanah agak mendung yang ditandai dengan pertumbuhan yang melamban dan diselimuti oleh ketidakpastian, berimbas ke Bali. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan menurun dan berada pada kisaran 3,5 persen.

Di tingkat nasional, Presiden Jokowi mematok angka pertumbuhan 5,3 persen untuk 2019. Dampak positif pembangunan infrastruktur yang cukup masif di seluruh wilayah Indonesia mestinya mulai menampakkan hasilnya di 2019.

Pilpres dan pilkada serentak di seluruh Indonesia jelas akan mendorong permintaan agregat dari sisi konsumsi. Sepanjang tidak terjadi kegaduhan politik yang memicu kehawatiran bisnis, dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dapat kita harapkan.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali memperkirakan pertumbuhan ekonomi Bali akan berada pada kisaran 6-6,40 persen. Optimisme ini terutama didukung oleh tren kegiatan sektor pariwisata yang masih terus meningkat.

Baca juga:  Awal 2019, Tiga Toko Ludes Terbakar

Beberapa kebijakan Gubernur Bali yang baru, tentu juga akan mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Bali. Pergub No.79 dan 80 yang dikeluarkan baru-baru ini akan mendorong pertumbuhan industri garmen lokal untuk memenuhi kenaikan permintaan akan pakaian adat Bali serta menstimulasi pula kegiatan sektor jasa yang terkait.

Kebijakan yang mendorong penggunaan produk pertanian dan industri kerajinan lokal yang akan dikeluarkan dalam waktu dekat bisa dipastikan akan lebih meningkatkan kontribusi sektor pertanian dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Namun demikian, para pelaku usaha dan perekonomian Bali harus tetap mengupayakan peningkatan produktivitas serta kualitas produk.

Pelaku usaha Bali harus bersaing merebut bersaing dan memenuhi permintaan pasar lokal maupun pasar ekspor. Peluang bisnis yang tercipta dari berbagai kebijakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus dimanfaatkan secara optimal.

Dunia usaha harus tetap melakukan investasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta terus menerus melakukan investasi dalam “human capital” agar SDM Bali mampu bersaing dan memanfaatkan kemajuan teknologi itu dalam pengembangan produk dan bisnisnya.

Untuk mendorong akselerasi ekonomi Bali, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali mendesak bidang pariwisata dapat dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya. Sehingga diperoleh manfaat kepada ekonomi Bali secara lebih nyata.

Sumber pertumbuhan ekonomi lain pendukung pariwisata juga harus mendapat prioritas, misalnya sektor perkebunan/pertanian, seperti kopi dan kakao yang berorientasi ekspor. Serta pengembangan berbagai macam industri kreatif yang seiring dengan budaya dan kearifan lokal Bali.

Dalam jangka pendek, Bali tentu harus mampu mewujudkan pemerintahan yang handal. Kepemimpinan Bali harus menjadi role model yang memiliki visi jangka panjang serta tangguh dalam implementasinya. Pemimpin juga harus memiliki kecakapan profesional dan menjadikan Bali mandiri dalam pengendalian inflasi.

Pemimpin hendaknya tetap menginspirasi gerakan dunia usaha untuk berinvestasi serta melakukan terobosan nyata dalam menekan kepincangan kemiskinan. Pendekatan ekonomi di sektor pariwisata Bali hendaknya dilakukan dengan pendekatan kualitas dan produktivitas yang berdaya saing.

Ekonom juga merekomendasikan agar mencegah perang tarif untuk menekan terkondisikan pariwisata murah. Selain melakukan penguatan sektor pertanian sebagai penyangga pariwisata, Bali juga harus bergerak dalam industri kreatif.

Tanpa upaya profesional di produktivitas dan kualitas 2019, peluang gagal mencapai target angka pertumbuhan sangat terbuka. Dan untuk itu, semua elemen hendaknya berada dalam gerakan menuju kemandirian ekonomi Bali. (Dira Arsana/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.