Wisatawan mengunjungi pasar kerajinan yang berlokasi di Ubud. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata Bali sangat tergantung dari luar Bali. Padahal kebutuhan pariwisata bisa diciptakan di Bali. Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi dari Undiknas Prof. Gede Sri Darma, Jumat (21/12).

Dengan adanya peluang ini, semestinya bisa memberdayakan potensi desa yang ada di Bali. Apalagi pariwisata Bali sudah melekat pada masyarakat dunia. “Biarkan ikon pariwisata menjadi sumber utama tapi industri atau sektor lain mendukung. Contoh loloh cemcem milik Bangli. Tidak boleh makanan merk lain dijual di sana, harus merk Bali. Tapi harus bersih kelolanya,” ujarnya.

Maka dari itu, tidak boleh jual produk lain selain produk Bali. Karena Bali mempunyai potensi untuk pengembangan produk industri kreatif maupun pertanian. “Jangan ijinkan produk lain masuk ke sini (Bali, red),” imbuhnya.

Bali memiliki keanekaragaman kuliner. Ini bisa menjadi potensi untuk dikembangkan. Meski demikian, Bali juga harus memiliki tata kelola produk yang baik. Misalnya makanan diolah dengan standar kebersihan.

Pemerintah daerah yang seharusnya mengatur hal itu. Mulai dari pengaturan, manejemen dengan profesional dan terstandar. “Jangan cuma pungut pajaknya saja,” katanya.

Baca juga:  Kunjungan wisatawan ke Nusa Penida Membludak

Bahkan potensi kuliner bisa dijadikan pasar malam, pasar pagi atau pasar siang asalkan bersih, higienis. Guide bisa mengarahkan tamunya ke sana. Orang lokal pun bisa membeli karena harganya bisa dijangkau sehingga bisa berbaur dengan masyarakat lokal.

Produk ekspor dari Bali yang selama ini dikenal adalah produk kerajinannya. Namun barang-barang kerajinan dinilai tidak prospektif lagi untuk dipasarkan. Karena perubahan gaya wisata masyarakat dunia yang beralih ke digital tourism.

Justru produk tekstil yang masih kuat untuk dipasarkan. Karena endek Bali sangat diminati di luar.

Jika pariwisata dan komponen penunjang pariwisata bisa dikelola dengan baik, maka ekonomi Bali bisa tumbuh seimbang. Pertanian dan industri kreatif bisa hidup.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya Bali tahun 2019 tergantung situasi politik saat itu. Namun diharapkan di atas 6 persen. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.