NEGARA, BALIPOST.com – Guna mengatasi abrasi yang berdampak hingga merusak permukiman di Pantai Pebuahan, Banyubiru, sejak beberapa bulan lalu dipasang geotextile woven. Pemasangan penanggulangan pantai ini merupakan tahap uji coba.

Sepanjang 80 meter dipasang semacam jaring menggunakan geotextile woven tersebut. Fungsinya untuk menjaring pasir laut hingga membentuk gundukan sebagai penahan ombak.

Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana, Wayan Widnyana mengatakan uji coba ini untuk antisipasi awal agar kawasan Pantai Pebuahan tidak semakin parah terdampak abrasi. Total ada 4 geotextile woven yang dipasang dengan masing-masing panjang  20 meter diamater 2,5 meter.

Empat geotextile woven itu dipasang di titik-titik yang paling rawan abrasi di Pebuahan. Diakuinya dengan geotextile woven itu jauh berbeda menggunakan batu armor yang lumrah diterapkan di beberapa pantai di Jembrana.

Prinsipnya seperti jaring atau karung besar untuk menjaring pasir yang dibawa ombak. Geotextile woven itu dipasang sekitar 50 meter dari tepi pantai. “Intinya meredam ombak memanfaatkan gundukan pasir itu. Memang tidak efektif seperti baru armor yang terpasang di pinggir pantai. Tetapi paling tidak sementara untuk bisa meredam ombak,” terang Widnyana.

Bila dari sisi efisian anggaran, jauh lebih murah menggunakan geotextile woven. Sementara itu, dari data yang dihimpun per akhir 2018 ini, 20,63 kilometer pantai mengalami abrasi.

Baca juga:  Yang Hancur dan Hilang, Gelombang Gelap Perubahan Iklim

Tepatnya di  22 titik pantai tersebar di lima Kecamatan di Kabupaten Jembrana. Rinciannya, mulai dari Kecamatan Melaya abrasi sepanjang 3,77 kilometer di 4 titik pantai. Yakni pantai Tuwed, Pantai Candikusuma, Pantai Nusasari dan Pantai Gilimanuk.

Selanjutnya di Kecamatan Negara,  7 kilometer di 5 titik pantai, yakni di Pantai Muara Sowan, Pantai Pengambengan, Pantai Cupel, Pantai Baluk Rening dan Pantai Pebuahan. Di Kecamatan Jembrana, 3,5 kilometer di tiga titik pantai yakni Pantai Yeh Kuning, Pantai Air Kuning dan Pantai Perancak.

Sedangkan di Kecamatan Mendoyo ada empat titik dengan total panjang 3,55 kilometer di antaranya Pantai Rambut Siwi, Pantai Yehembang, Pantai Penyaringan, dan Pantai Delod Berawah. Terakhir di Kecamatan Pekutatan sepanjang 2,8 kilometer di 6 titik pantai. Antara lain, Pantai Pengeragoan, Pantai Gumbrih, Pantai Pangyangan, Pantai Pekutatan, Pantai Pulukan dan Pantai Medewi.

Namun dari 22 titik itu, menurut Widnyana, yang terparah terjadi di Pantai Gilimanuk dan Pantai Pebuahan. Dampak abrasi sudah merusak sejumlah fasilitas umum dan permukiman warga. Penanganan abrasi di Jembrana terakhir diterima pada 2017. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.