Dua orang petugas tengah melakukan proses perawatan di Gardu Induk Sanur, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Bali, Nyoman Swiranata menyatakan saat ini sudah tidak ada pemadaman bergilir di Bali. Kendati, pihaknya mengakui sebagian daerah di Bali sempat mengalami pemadaman, Minggu (16/12) malam.

Hal itu disebabkan karena adanya gangguan yang saat ini masih diinvestigasi. “Terjadi pasokan energi turun ketika pemadaman agak banyak kemarin (Minggu, red),” ujarnya dikonfirmasi, Senin (17/12).

Menurut Swiranata, ada beberapa Gardu Induk (GI) yang suplainya turun. Ini menyebabkan adanya pemadaman seperti misalnya di daerah Tabanan, Dalung, dan Padangsambian.

Namun, pihaknya sudah berupaya menormalkan kembali selama 1,5 jam. “Sekarang gangguannya masih diinvestigasi oleh temen-temen dari Jaringan, dari Transmisi,” jelasnya.

Diwawancara terpisah, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, kapasitas listrik di Bali sebetulnya mencukupi bahkan lebih. Terjadinya pemadaman diyakini karena ada masalah teknis, bukan akibat kekurangan energi. “Kita kan punya energi kapasitasnya 1250 MW, kebutuhannya maksimum 850 MW. Jadi masih punya sisa banyak, mungkin ada gangguan sehingga ada yang mati. Bukan karena kekurangan energi yang dihasilkan oleh pembangkit,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Bali, I Nengah Tamba mengatakan, energi listrik mutlak harus tersedia di Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Namun demikian, energi yang ada juga harus ramah lingkungan.

Baca juga:  2018, Telkomsel Jawa Bali akan Gelar 4G di 6.000 Titik

Oleh karena itu, pihaknya kembali mengusulkan Jawa-Bali Crossing yang sebelumnya sempat berbenturan dengan Bhisama Pura. Terlebih, anggaran untuk itu juga sudah ada. “Tinggal kita definisikan dengan tepat arti kesucian. Perda Zonasi sudah mengatur dan bhisama, apa lagi. Kemudian kalau Bali dibilang mandiri, dalam arti sempit mesti bangun pembangkit. Uang dari mana? Yang bangun siapa, kan masih retorika dan itu justru bukan clean and green,” ujarnya.

Tamba menambahkan, arti kemandirian sebetulnya Bali cukup listrik. Hal itu bisa terpenuhi dengan proyek Bali Crossing. Energi yang didapat pun bersih karena tidak perlu membangun pembangkit.

Mengingat, pembangkit cenderung polutif. Sebut saja pembangkit di Celukan Bawang yang menghasilkan emisi dari bahan bakar batubara dengan dampak pencemaran lingkungan. “Ini listrik bersih, hanya kabel yang melintas (dengan Bali Crossing, red). Nanti kita pertegas juga di revisi Perda RTRWP,” jelas Wakil Ketua Pansus Revisi Perda RTRWP Bali ini. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.