Causa Iman Karana. (BP/dok)

Oleh Causa Iman Karana

Jelang akhir tahun 2018, kita semua mulai menimbang-nimbang peluang dan tantangan kinerja perekonomian setahun ke depan. Kinerja ekonomi global, khususnya dampak kebijakan hegemoni proteksi perdagangan oleh beberapa negara besar termasuk Amerika Serikat, membayangi prospek ekonomi dunia tahun 2019 dan akan memengaruhi kinerja ekonomi nasional.

Berbagai peristiwa pada tahun 2018, seperti proteksi perdagangan, kebijakan The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga, tren penurunan harga komoditas dunia, serta masih berlangsungnya pergolakan di kawasan Timur Tengah, terus membayangi perekonomian tahun 2018. Ini akan berdampak pada ekonomi tahun 2019. Namun, berbeda dengan kondisi perekonomian Bali, optimisme masih tetap terjaga melihat data ekonomi Bali yang cukup prospektif.

Kinerja Ekonomi Bali 2018

Tahun 2018 menjadi momentum peningkatan kinerja ekonomi nasional dan regional yang tercermin dari meningkatnya kinerja pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi nasional diprakirakan tumbuh 5,1% (yoy), lebih baik dibanding tahun 2017 yang tumbuh 5,07% (yoy). Kinerja perekonomian Indonesia pada 2018 cukup baik dengan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga.

Kinerja perekonomian Bali juga menunjukkan peningkatan. Pada triwulan III-2018, ekonomi Bali tumbuh 5,99% (ctc) dan untuk keseluruhan tahun diprakirakan akan tumbuh pada kisaran 5,90%-6,30% (yoy), terakselerasi dibanding tahun 2017 sebesar 5,59% (yoy). Peningkatan kinerja ini didorong oleh komponen investasi, konsumsi rumah tangga, maupun konsumsi pemerintah.

Beberapa hal yang mendorong akselerasi kinerja komponen tersebut antara lain penyelenggaraan pertemuan IMF-World Bank 2018, upaya percepatan realisasi belanja pemerintah, serta terkendalinya inflasi. Dengan kondisi tersebut, ekonomi Bali 2018 diproyeksikan akan tumbuh dalam kisaran 5,90%-6,30% (yoy).

Kinerja inflasi Bali hingga November 2018 tercatat 3,43% (yoy), sedikit lebih tinggi dari inflasi 2017 yang sebesar 3,32% (yoy). Namun, masih tetap masuk sasaran inflasi nasional 3,50%±1% (yoy). Inflasi Bali 2018 diperkirakan akan berada di kisaran 3,00%-3,40%.

Prospek Ekonomi Bali Kuat

Optimisme pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019, terutama didorong oleh potensi terus meningkat dan berkembangnya bidang usaha pariwisata. Ini sejalan dengan target kunjungan 8 juta orang wisman pada 2019 (nasional 20 juta orang). Di samping itu, upaya-upaya pengembangan pasar alternatif untuk wisman, pengembangan infrastruktur seperti perluasan apron Bandara Ngurah Rai dan peningkatan kapasitas Benoa Tourism Port serta potensi penambahan beberapa direct fligth baru dari dan ke beberapa negara asal wisman.

Peningkatan kinerja ekonomi Bali pada tahun 2019 juga didukung oleh masih kuatnya pertumbuhan kinerja ekonomi negara mitra dagang utama Bali (AS dan Australia) yang akan berdampak pada masih kuatnya kinerja ekspor barang dan jasa Bali. Mulai beroperasinya Waduk Titab pada 2019 juga menjadi faktor pendorong ekonomi Bali dari sisi pertanian.

Sejalan dengan itu, rencana pembangunan dua bendungan (Tamblang dan Sidan) dan pengerjaan beberapa proyek konstruksi dan infrastruktur berupa pembangunan kawasan perkantoran, hotel, bendungan, shortcut jalan dan pengerjaan Benoa Tourism Port akan menjadi pendorong ekonomi Bali 2019. Pengembangan Quality Tourism dan pengembangan pasar-pasar alternatif untuk ekspor barang ke luar negeri juga menjadi faktor pendorong ekonomi Bali. Dengan kondisi tersebut, kinerja ekonomi Bali pada tahun 2019 diperkirakan akan tumbuh dalam kisaran 6,00% – 6,40% (yoy).

Baca juga:  Bangun Ekonomi Bali Secara Komprehensif

Stabilitas inflasi sepanjang tahun 2019 dapat tercapai yang didukung oleh prakiraan terjaganya inflasi volatile food melalui upaya: (i) perbaikan produktivitas pangan, (ii) upaya Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanam Terpadu, (iii) pembangunan infrastruktur pertanian (waduk) serta perbaikan saluran irigasi, (iv) upaya meningkatkan konektivitas penunjang dalam mendorong kelancaran distribusi.

Meskipun demikian, risiko tekanan inflasi volatile food masih bersumber dari potensi terjadinya anomali cuaca seperti tingginya curah hujan pada awal tahun. Dari sisi administered prices, perkembangan harga minyak dunia yang terus menurun, membawa optimisme akan terjaganya tingkat inflasi. Dengan kondisi tersebut, inflasi Bali 2019 diproyeksikan 3,50%±1% (yoy).

Tantangan dan Peluang ke Depan

Perekonomian Provinsi Bali ke depan masih menghadapi berbagai tantangan. Besarnya ketergantungan terhadap kedatangan wisatawan ke Bali melalui jalur udara menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Bali. Khususnya bila terjadi bencana alam yang mengakibatkan tutupnya operasional bandara seperti pada tahun 2015 dan 2017. Pengembangan Pelabuhan Benoa dan Celukan Bawang menjadi hal yang strategis sebagai alternatif pintu masuk ke Bali.

Tantangan lain yang dihadapi Bali adalah besarnya peran pariwisata terhadap ekonomi Bali. Kondisi tersebut memunculkan risiko terhadap kesinambungan pertumbuhan ekonomi Bali, terutama bila terjadi bencana yang menghambat akses masuk dan keluar Bali. Menyiasati tantangan ini, pengembangan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, antara lain melalui hilirisasi komoditas perkebunan untuk ekspor, seperti komoditas kakao dan kopi serta pengembangan industri kreatif menjadi sangat penting.

Bali juga menghadapi tantangan berupa perubahan struktur wisatawan ke Bali, yang berdampak pada kualitas wisman yang cenderung menurun, baik dari sisi belanja wisman maupun dari rata-rata lama tinggal. Untuk mengatasinya, pengembangan pariwisata Bali ke depan diharapkan dapat difokuskan pada pengembangan strategi mix tourism, yaitu target kuantitas wisman tetap diupayakan tercapai, namun juga perlu mendorong kedatangan wisman dengan pengeluaran yang tinggi dan lama kunjungan yang lebih lama (quality tourism).

Pengembangan quality tourism antara lain dilakukan melalui pengembangan beberapa paket wisata minat khusus meliputi MICE, medical tourism, sport tourism dan retired tourism. Selain itu, pengembangan pasar alternatif juga harus dilakukan, antara lain ke kawasan Eropa Tengah, Timur Tengah, Eropa Timur, Rusia, serta beberapa kawasan di Afrika.

Pelaksanaan kegiatan IMF-WB Annual Meeting pada Oktober 2018 di Bali telah menjadi bukti nyata dari bentuk quality tourism khususnya dari sisi penyelenggaraan MICE berskala internasional. Selain itu, perlu dilakukan zonasi wilayah terhadap destinasi wisata, sesuai dengan potensi dan karakter yang dimiliki oleh masing-masing destinasi. Hal ini dapat dicapai melalui koordinasi Pemerintah Daerah Provinsi Bali dalam konsep one island management.

Lapangan usaha pertanian yang merupakan lapangan usaha dengan share terbesar kedua di Provinsi Bali, juga menghadapi tantangan berupa tingginya alih fungsi lahan pertanian. Menghadapi tantangan ini, maka pengembangan destinasi wisata agrowisata dan desa wisata yang terintegrasi dengan paket-paket wisata menarik diharapkan dapat menahan terjadinya alih fungsi lahan dan berkembangnya ekonomi pedesaan, serta meningkatnya nilai tambah petani.

Penulis, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.