Sampah kiriman dari hulu tertahan di bawah jembatan Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng. Dikhawatirkan, kembali hujan bisa saja sampah lebih banyak tertahan di bawah jembatan dan memicu banjir yang merendam jalan dan rumah warga di sekitarnya. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Hujan yang melanda beberapa desa di Buleleng menyebabkan volume air di Daerah Aliran Sungai (DAS) naik. Tak hanya itu, aliran air ksaat hujan menghayutkan sampah kiriman dasri huu berupa dahan dan renting pohon. Parahnya, sampah kiriman itu tertahan tepat di atas jembatan di jalan SIngaraja – Seririt wilayah Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng.

Saat hujan diawal 2018 lalu, sungai ini memicu banjir karena sampah menghalangi aliran air sehingga merendam jalan rumah warga. Bahkan, banjir akibat luberan air sungai sebelumnya juga menghayutkan sebuah mobil pribadi milik warga.

Tidak ingin peristiwa itu terulang, Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah bersama personel Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Buleleng sejak Selasa (11/12) lalu melakukan normalisasi alur sungai. Hanya saja, penanggulangan ini tidak optimal karena dilakukan dengan cara manual. Sementara penanganan dengan alat berat sebanrnya wewenang dari Bali Wilayah Sungai (BWS) Bali – Penida.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Ida Bagus Suadnyana Rabu (12/12) kemarin mengatakan, sejak hujan melanda DAS di Buleleng termasuk di Desa Pemaron mengalami peningkatan volume air dasri biasanya. Aliran air menghayutkan sampah mulai dari ranting, dahan pohon, hingga bekas potongan bambu. Karena terhalang oleh tiang pancang jembatan, sampah itu tertahan di tiang pancang tersebut.

Kalau dibiarkan, situasi ini dikhawatirkan akan mengakibatkan air sungai ketika hujan meluap. Bahkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan baniir yang merendam rumah atau badan jalan seperti diawal tahun silam. “Ini baru dua kali saja hujan volume smapah yang terhan di bawah jembatan begitu tinggi. Kalai tidak ada penangaan serius, nanti hujan lagi lalu sampah dari hulu akan kembali hanyut dan terhan di bawah jembatan, maka banjir akan terulang di sini,” katanya.

Baca juga:  Biaya Sampah Makin Mahal

Menurut mantan Camat Buleleng ini, mencegah air sungai meluap perlu dilakukan penanganan permanen. Caranya menormalsiasi alur dan dingding sungai yang selama ini sudah menyempit karena endepan sidementasi. Hanya saja, penanganan bisa dilakukan oleh BWS. Untuk itu, pihkanya sudah berkordinasi dengan Dinas PUPR Buleleng lanjut ke BWS. Hasilnya, untuk sementara, peran pemerintah daerah masih diharapkan menangani lebih awal gangguan alur sugai tersebut. Selanjutnya, program permanen akan diprogramkan koleh PUPR bersama BWS.

Selain itu, upaya penyadaran agar warga tidak membuang ranting pohon bekas menebang bambu atau pohon ke sungai. “Kewenangan itu ada di PUPR dan BWS. Untuk sementara, kami kordinasi dan disarankan melakukan penanganan awal, seingga pada Jumat (14/12) besok kami, PUPR, intanasi terkait lain dan warga Desa Pemaron melakukan aksi bersih sungai. Mudah-mudahan dari gerakan awal ini dapat mengatasi smapah di alur sungai ini,” katanya. (mudiarta/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.