Saluran drainase di Perumnas Baler Bale Agung menggunakan bahan u-dith atau precast yang berfungsi untuk penanggulangan banjir. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Salah satu pemicu banjir di permukiman kawasan Negara adalah buruknya saluran drainase air. Di beberapa permukiman yang kebanjiran, saluran drainase tersumbat dan cenderung tidak lancar. Akibatnya, ketika hujan air menggenang.

Salah satu wilayah permukiman padat penduduk yang sebelumnya sering kebanjiran adalah di Perumnas, Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara. Di kawasan padat penduduk ini sekarang terpasang drainase sepanjang kurang lebih 4,5 kilometer untuk mengatasi permasalahan banjir di Perumnas.

Saat hujan deras yang terjadi pada pekan lalu, genangan air yang biasanya terjadi di sejumlah titik di permukiman tak terjadi lagi. “Ada perubahan, biasanya di dua jalan ini sering banjir. Tapi beberapa titik sudah tidak lagi,” tandas salah seorang warga di Jalan Bougenvile, Senin (10/12).

Air pembuangan baik dari rumah tangga maupun dari Utara Perumnas yang dulunya masuk saluran air irigasi, kini sudah dialihkan melalui saluran khusus dibawah dan langsung ke Sungai Ijogading. Saluran drainase ini berbeda dengan saluran irigasi yang mengalir di sekitar Perumnas.

Lurah Baler Bale Agung, Ida Bagus Gede Ananda Kusuma mengatakan adanya drainase yang dibangun dari ujung Utara Perumnas hingga ke Sungai Ijogading itu memang berdampak pada saluran air di kawasan padat penduduk tersebut.  Beberapa titik yang dulunya langganan banjir terutama di permukiman kini sudah tidak lagi. “Memang ada dampaknya, air dari Utara bisa lancar dan beberapa titik sudah tidak langganan banjir seperti dulu. Kemarin waktu hujan deras diuji langsung,” terang Lurah.

Namun diakuinya masih ada beberapa titik baik di Utara permukiman dan gang-gang yang perlu tambahan drainase kecil. Dan itu menurutnya itu diusulkan untuk tahun selanjutnya.

Baca juga:  Sampah Meningkat Hingga 30 Persen Setelah Galungan, Ini Upaya DLH Tabanan

Yang terpenting sudah ada saluran yang mengalir langsung ke Sungai Ijogading. Kini tergantung dari masyarakat untuk pemeliharaan saluran air tersebut. Menjaga agar saluran bersih dari sampah dan kotoran lainnya. Meskipun di ujung-ujung saluran drainase terdapat penyaring, namun tidak akan berfungsi apabila tidak dibersihkan.

Di sisi lain, PPK pada Satker Satker Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Provinsi Bali, Gusti Agung Ariwibawa mengatakan saluran drainase di permukiman ini berdasar usulan sebelumnya untuk kawasan prioritas rawan banjir di Jembrana. Selain di Perumnas Baler Bale Agung, usulan yang masuk dan masih dalam kajian adalah di LC Dauhwaru. Tahun ini pembangunan bersumber dari APBN itu diturunkan untuk Perumnas BB Agung. “Tujuannya untuk saluran air saat hujan, prioritas daerah rawan banjir. Di Jembrana yang baru ditangani di Baler Bale Agung ini,” terangnya.

Menurutnya saluran drainase ini selain di jalan-jalan permukiman juga ada blok konvert yang mengarah langsung ke Sungai Ijogading. Di bawah Jalan Dahlia sepanjang kurang lebih 750 meter menggunakan blok konvert.

Blok konvert itu tembus langsung ke Sungai Ijogading untuk memperlancar pembuangan air. Sehingga terpisah dari saluran irigasi yang mengalir di sekitar Perumnas.

Sementara itu selain perbaikan saluran drainase, normalisasi alur sungai juga perlu dilakukan. Sejumlah jalur aliran sungai yang sebelumnya sering berdampak banjir seperti di Bendung Kaliakah dilakukan pengerukan dasar sungai. Termasuk perbaikan alur sungai di Samblong tembus Air Kuning akhir pekan lalu.

Pelurusan alur sungai  (short cut) dilakukan secara bergotong royong untuk mengantisipasi banjir. Di bantaran sungai Samblong tersebut ketika air meluap, sekitar 50 rumah pasti terendam. Sebelum adanya shortcut, alur airnya kurang baik dan berliku. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.