Suasana di Atambua, daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. (BP/dok)

Kita sering salah dalam mengelola daerah perbatasan. Mestinya wilayah perbatasan kita jadikan sebuah showroom alias halaman depan wajah Indonesia terbaik, bukan menunjukkan kekumuhan dan kondisi tegang kepada warga kita dan warga negara lain.

Baru setelah Presiden Jokowi yang serius menangani masalah ini. Makanya jangan salahkan banyak WNI pindah menjadi WN Malaysia dan Timor Leste. Yah, ini karena salah kita sendiri menjadikan mereka warga kelas dua dan kental dengan suasana peperangan.

Buktinya, daerah perbatasan banyak yang mengalami keterbelakangan ekonomi karena tiadanya program pemerintah maupun swasta. Panjangnya garis perbatasan, baik darat maupun laut yang sulit untuk diawasi oleh aparat keamanan. Akibatnya, pelanggaran wilayah perbatasan, penyelundupan dan aktivitas ilegal lintas  batas lainnya sering kali terjadi. Masyarakat di perbatasan justru kebanyakan mendapat fasilitas administrasi dan pelayanan publik dari negara tetangga yang kemudian dapat menimbulkan nasionalisme mereka terbelah dan akhirnya mereka mengalami degradasi nasionalisme.

Apabila kawasan perbatasan tidak dikelola secara baik khususnya perbatasan di Timor Leste, tentunya kedaulatan negara menjadi pertaruhan dan jangan heran ketika masyarakat di perbatasan lebih memilih berpindah warga negara. Kabarnya sudah 66 KK yang ada di daerah perbatasan memilih menjadi warga negara Timor Leste. Mereka tergiur dengan kesejahteraan yang dijanjikan.

Mereka juga dimudahkan dalam pengurusan administrasi. Sebab, jangkauan mereka ke ibu kota kabupaten lebih jauh ketimbang menyeberang ke Timor Leste. Nah, dari sini kita perlu belajar mengelola daerah perbatasan. Buat mereka sejahtera dengan segala jenis kemudahan. Kemudian, rangkul tetua dan sesepuh adat dan tokoh adat daerah perbatasan.

Baca juga:  Ambil Paket Narkoba, Dua WNA Ditangkap

Sekali lagi, perhatikan mereka dan kesejahteraan tokoh adat. Sebab, pola masyarakat kita yang masih banyak dipengaruhi zaman kerajaan masih menjadikan tokoh adat sebagai panutan. Coba satu tokoh adat yang mampu kita sejahterakan, sekian puluh KK bisa kita pegang. Demikian juga sebaliknya, mereka ditekan terus dan dimiskinkan, yakinlah satu tokoh adat pindah negara, puluhan KK juga lari meninggalkan kita.

Kedua, negara tak hanya mengandalkan TNI sebagai penjaga daerah perbatasan. Maaf saja, jika hanya mengandalkan TNI terkesan kita negara militer. Sebaiknya rangkul tokoh adat setempat. Lanjutkan dengan penataan infrastruktur yang bagus di daerah ini. Dengan demikian negara tetangga merasa salah menentukan pilihan di Timor Leste.

Tunjukkan juga keramahtamahan dengan negara tetangga yang dulu menjadi bagian NKRI. Bukan dengan menunjukkan wajah kebencian. Bila perlu, daerah perbatasan dibuatkan ala pesta seni. Secara rutin digelar malam seni mempertunjukkan kemampuan kesenian sekaa di daerah perbatasan. Bahkan, kalau bisa melibatkan WNA tetangga.

Dengan cara demikian, mereka merasa bukan lagi terbelah namun bersaudara. Bukankah lewat seni kita bisa memperhalus budi. Dengan demikian, tugas TNI tak akan menjadi berat menjaga keamanan daerah perbatasan dengan menenteng senjata setiap hari. Jadikan seni sebagai senjata utama dan berbaurlah dengan warga di perbatasan. Mampukah kita menjalankan tugas ini?

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.