DENPASAR, BALIPOST.com – Defisit air bersih dialami Bali saat ini. Sebab, selain harus memenuhi kebutuhan masyarakat, Bali juga harus menyuplai kebutuhan air bersih wisatawan.

Ketersediaan air bersih di Bali ini dibahas Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) Surabaya – Wilayah Bali, Sabtu (8/12). Dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Tantangan dan Strategi Penyediaan Air Bersih di Bali” ini, dosen ITS, Ir Eddy Setiadi Soedjono Dipl SE MSc PhD, menyebutkan, target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) tahun 2015 – 2019 yaitu tercapainya universal access atau cakupan akses 100% untuk air minum, 0% kawasan kumuh, 100% untuk sanitasi.

Cakupan 100% air minum yang dimaksud adalah semua daerah di Indonesia 100% terlayani oleh air bersih. Namun sampai saat ini terjadi gap antara water demand dengan water supply.

Pada kenyataannya, kebutuhan air di perkotaan kurang lebih sebesar 200 liter per orang. Sedangkan berdasarkan Permen PU No 14/2010 kebutuhan air bersih 60 liter per orang per hari.

Jadi ada kelebihan konsumsi 140 liter per orang. “Di Singapura mereka tidak punya sumber mata air dan air sangat mahal sehingga mereka akhirnya mengubah air limbah dijadikan air minum. Sebenarnya di Indonesia bisa saja seperti Singapura karena teknologinya sendiri sudah ada. Namun, ini belum dapat diterima oleh masyarakat karena masalah nilai ‘rasa’,” ungkapnya.

Sementara Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida I Ketut Jayada ST menyebutkan, BWS Bali berencana membangun bendungan untuk menutupi kekurangan lima kubik air yang terjadi di Denpasar. “Caranya harus bikin bendungan untuk Denpasar, untuk bantu 1,7 kubik. Dan nanti akan dibangun 5 bendungan,” katanya.

Baca juga:  Bau Tak Sedap Cemari Drainase EOC Lanud Ngurah Rai

Selama ini, terang Jayada, air PDAM hanya mampu melayani sekitar 58 persen kebutuhan air bersih warga kota. Hal ini karena jumlah penduduk Denpasar yang banyak dan juga sektor pariwisata. “Beruntung Denpasar punya air tanah yang bagus. Jadi 42 persen masyarakat bisa menggunakan air tanah,” papar Jayada.

Namun, penggunaan air tanah secara berlebihan memiliki beberapa dampak buruk. Jika dipakai secara terus menerus, akan terjadinya penurunan permukaan tanah seperti yang terjadi di Jakarta.
“Untuk itu kami berupaya menyediakan air di atas untuk mengurangi pemakaian air tanah. Terutama banyak hotel memakai air tanah,” kata dia.

FGD yang berlangsung Sabtu siang hingga sore tersebut juga menghadirkan narasumber dari DPRD Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana ST, Dirut PDAM Gianyar Made Sastra Kencana yang juga mewakili Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) Bali, dosen Unud Prof Ir I Nyoman Norken SU PhD juga Managing Director The Nusa Dua Bali, AA Istri Ratna Dewi.

Ketum PW IKA ITS Bali, Wayan Mahardika menyatakan, FGD ini sebagai bentuk kontribusi alumni ITS yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan, terhadap pembangunan Bali. Sebagai bagian dari masyarakat intelektual Bali, alumni ITS memiliki peran dan tanggung jawab yang besar membantu pemerintah menjawab dan menghadapi tantangan ekonomi di masa yang akan datang. “Focus Group Discussion (FGD) merupakan kegiatan berkelanjutan di IKA ITS Bali,” ujar Wayan Mahardika. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.