Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi saat menghadiri pembukaan Bali Democracy Forum (BDF), Kamis (6/12) di BNDCC, Nusa Dua. (BP/edi)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Untuk kali ke-11 Bali Democracy Forum (BDF) kembali digelar, Kamis (6/12) di BNDCC, Nusa Dua. Pertemuan yang dihadiri sekitar 470 peserta dari 92 negara serta 7 organisasi internasional ini dibuka langsung oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

Pada kesempatan tersebut, Menlu Retno menyebutkan, pelaksanaan BDF tahun ini memasuki tahun pertama dekade kedua. Selama 10 tahun pertama BDF telah mencitrakan kontribusi Indonesia terhadap kemajuan nilai-nilai demokrasi, pluralisme dan modernisasi, baik di kawassan Asia Pasifik maupun dalam tataran global.

BDF ke depannya akan tetap konsisten mempromosikan nilai-nilai demokrasi. “Kita sadar akan adanya tantangan-tantangan baru, tetapi melalui BDF pemerintah Indonesia terus berupaya menunjukkan bahwa demokrasi merupakan alat untuk menghilangkakan ketimpangan dan mereduksi kesenjangan, serta demokrasi memberikan kesempatan untuk kemajuan ekonomi secara seimbang,” katanya.

BDF ke-11 yang berlangsung selama dua hari ini, adalah forum untuk saling berbagi pengalaman (sharing best practices) untuk memajukan demokrasi, karena tidak ada negara demokrasi yang tidak rentan terhadap kemunduran. Untuk itu keberlangsungan demokrasi harus terus dipertahankan melalui saling belajar dan membangun kolaborasi yang kuat antarnegara demokrasi. “BDF bukan menunjukkan bahwa Indonesia adalah the champion of democracy. Namun forum bersama ini justru menjadi kesempatan bagi negara-negara untuk bertukar pengalaman dan saling belajar,” ujar Menlu Retno.

Dikatakan, kesuksesan demokrasi adalah inklusivitas yang dapat diakses dan dinikmati oleh semua. Tidak ada yang dimarjinalkan karena kohesi sosial terbentuk untuk mendukung kesejahteraan. Dalam upaya memajukan kemakmuran rakyat itulah, BDF ke-11 mengangkat tema “Democracy for Prosperity”.

Baca juga:  19 Negara Akan Ramaikan Sanur International Kite Festival

Selama dua hari ini akan digunakan untuk melihat bagaimana demokrasi membantu kesejahteraan untuk semua (prosperity for all) dan tanpa mengurangi keberlangsungan dari pembangunan ekonomi tersebut. “Dalam forum ini akan dibahas demokrasi untuk kemakmuran rakyat. Tahun ini kita memakai format yang disesuaikan serta memberikan ruang dan waktu yang cukup kepeda peserta untuk melakukan diskusi interaktif lebih banyak, sehingga formatnya kita simpelkan,” kata Retno.

Secara bersamaan diselenggarakan forum lain secara paralel, yakni Bali Democracy Students Conference (BDSC) ke-2 dan Bali Civil Society and Media Forum (BCSMF). Tujuannya adalah agar pembahasan demokrasi dilakukan secara inklusif dan komprehensif dari sudut pandang yang beragam. “BDSC berupaya melibatkan anak muda sebagai generasi penerus, pilar demokrasi di masa mendatang agar mereka tidak apatis terhadap demokrasi. Kita memerlukan energi para milenial ini untuk terus melanjutkan perjuangan dalam mempromosikan demokrasi. Sedangkan BCSMF digunakan untuk mengulas peran masyarakat madani dan media sebagai penyeimbang dan komplemen proses tumbuh kembangnya demokrasi,” ucapnya.

Sejak tahun 2017, BDF telah memperluas jangkauannya ke berbagai kawasan dengan menggelar BDF Chapter Tunis dan tahun ini BDF Chapter Berlin. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.