Pelajar sedang mengkases internet lewat HP. (BP/dok)

Lompatan kemajuan teknologi demikian pesatnya. Ditandai sistem otomatisasi di hampir semua bidang, mulai dari produksi, distribusi, perdagangan, pemasaran dan lain-lainnya. Bahkan, lompatan teknologi informasi telah menghapus batas ruang dan waktu. Para pakar dunia menyebut ini sebagai Revolusi Industri 4.0 yang akan mengubah secara fundamental peradaban manusia. Perubahan itu demikian pesat dan cepatnya, sejalan dengan cepatnya lompatan kemajuan teknologi itu sendiri.

Kita semua tentu sangat mahfum, keberadaan telepon genggam (seluler) yang menghapus pagar dan membangkrutkan para operatornya. Apalagi dengan segala kecanggihannya sekarang ini, keberadaan alat komunikasi ini telah membuat dunia benar-benar berada dalam satu genggaman. Sementara kemajuan teknologi di bidang produksi dan lain-lainnya, dipastikan mengubah nasib ratusan juta bahkan mungkin miliaran pekerja di seluruh dunia.

Ini tidak lain dengan sistem otomatisasi yang menawarkan berbagai kemudahan, efisiensi, bahkan kemanjaan di segala lini. Karena itu, Revolusi Industri 4.0 harus diantipasi semua pihak. Karena sesuatu keniscayaan, apa yang ada sekarang akan menjadi usang dan ditinggalkan pada saatnya nanti. Perlu revolusi mental semua pihak untuk menyiapkan diri menyambut dan menghadapi revolusi industri ini.

Bali yang selama ini sangat mengandalkan sektor pariwisata, sudah merasakan hal itu. Masyarakat internasional yang mau menikmati Bali kini tinggal melihat di gadget canggih yang mereka pegang. Dari satu alat canggih ini, mereka bukan hanya bisa tahu tentang Bali. Mereka bisa langsung memesan kamar hotel, tiket pesawat, termasuk langsung melakukan transaksi pembayaran di gadget yang mereka pegang. Wisatawan backpacker (anggaran terbatas/minim) pun sekarang membanjiri Bali.

Sisi positifnya, daerah ini dengan berbagai keunikan dan seluk beluknya bisa langsung dikenal di seluruh dunia. Industri pariwisata sendiri, bisa menekan biaya yang harus dikeluarkan karena semua kini lebih sangat praktis, efektif, dan efisien. Tetapi jangan lupa, kemajuan teknologi ini meninggalkan jejak digital yang tidak lagi bisa dibohongi atau disembunyikan. Semua demikian terbukanya untuk diakses di seluruh dunia.

Baca juga:  Rekonstruksi SDM yang Berdaya Saing

Ini tentu harus diantisipasi seluruh komponen masyarakat, bagaimana menjaga Bali dalam rangkuman digital kemajuan teknologi ini. Mengingat, sedikit saja ada hal negatif tentang Bali akan terekam dan bisa langsung menyebar tanpa batas ruang dan waktu ke seantero jagat.

Perubahan (Revolusi Industri 4.0) ini memang tidak bisa dihindari. Adat dan tradisi Bali pun tidak bisa menghindarinya. Seperti dialog Krisna dengan Bisma, sang waktulah yang akan mengubah semuanya. Kita semua tentu berharap perubahan itu ke arah yang lebih baik. Demikian halnya Revolusi Industri 4.0, kita harapkan membawa kemajuan ke arah yang lebih baik bagi Bali. Semua harus bisa mengikuti perubahan ini, tanpa harus hanyut di dalamnya. Melainkan, bisa menangkap dan memanfaatkan peluang yang ada dalam Revolusi Industri 4.0 ini.

Selama ini, banyak yang menyebut mental orang Bali sebagai mental priyayi. Dalam artian, masih lebih menaruh gengsi di atas kenyataan yang ada. Sementara dalam Revolusi Industri 4.0 justru mengedepankan kecepatan dalam persaingan. Siapa cepat dia yang dapat, siapa yang menguasai teknologi dia yang mampu “menaklukkan” dunia. Mental masyarakat harus diubah dari “diperbudak” teknologi menjadi memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya. Dari sekadar menikmati kecanggihan gadget (teknologi) menjadi memanfaatkan gadget untuk “menaklukkan’’ dunia.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.