Wisatawan sedang berbelanja di Pasar Ubud. (BP/dok)

GIANYAR, BALIPOST.com – Menjelang akhir tahun, okupansi homestay di kawasan Ubud turun. Bahkan dari ribuan kamar yang ada di kampung turis itu, hanya terisi antara 25 hingga 30 persen.

Melihat berkurangnya demand, sejumlah pengusaha homestay pun mulai menurunkan harga kamar. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga Natal. Ketua Ubud Homestay Asosiasi (UHSA), I. B. Wiryawan, Minggu (2/12) mengatakan memasuki awal Desember tahun ini, okupansi memang terbilang sangat rendah. Diketahui kondisi ini berlangsung sejak Oktober. “Okupansi masih sangat rendah antara 25 hingga 30 persen. Paling parah itu terjadi mulai November sampai sekarang,” ungkapnya.

Meski memang menjadi fenomena rutin, kondisi ini terbilang sangat tendah. Kondisi ini hampir mendekati saat bencana Gunung Agung, yang kala itu okupansi merosot hingga 20 persen. “Tetapi harapan kita nanti bisa naik. Selain ini memang siklus, menjelang Natal biasanya memang sepi. Kita setelah Natal biasanya mulai naik,” jelasnya.

Baca juga:  Pelaku Pariwisata Yakinkan Wisatawan Aman Kunjungi Bali

Meski optimis akan terjadi peningkatan, diakui sampai saat ini belum ada booking kamar setelah Natal. “Booking masih rendah, malahan ada yang sama sekali belum ada permintaan,” katanya.

Dikatakannya, homestay yang tergabung di asosiasi pun mulai mengambil langkah penurunan harga kamar. “Pastinya ada strategi penurunan harga, karena memang permintaan tidak ada. Tetapi turunnya tidak banyak hanya Rp 50 Ribu. Misal harga kamar per malam Rp 300 ribu turun menjadi Rp 250 ribu,” ucapnya.

Dikatakan seputaran kampung turis itu tercatat ada sekitar 340 homestay dengan jumlah kamar sekitar 2.000 lebih. “Kita tunggu saja, mudah mudahan sebelum akhir tahun ini ada peningkatan wisatawan yang menginap di Ubud,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.