Petani sedang memanen beras merah di Tabanan. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Baru-baru ini ekspor beras merah cendana terbuka ke pasar Amerika. Pengiriman tahap pertama sebanyak 10 ton sudah dilakukan pada Juli dan kuota kedua sudah disiapkan untuk dikirim.

Namun, menurut pemilik UD Karya Sejahtera, Wayan Sukaarta, yang merupakan pengekspor beras merah ini, dalam pengiriman pertama ternyata ada permasalahan kutu, sehingga pengiriman ke-2 yang diminta sebanyak 15 ton dibatalkan untuk sementara.

Ia mengatakan adanya kutu ini dikarenakan permintaan eksportir yang tidak mau beras merah cendananya dikemas dengan cara divakum. “Mereka minta dikemas dengan menggunakan kampil dan plastik. Karenanya, sekarang dilaporkan ada kutunya,” ujar Sukaarta, Minggu (2/12).

Ia melanjutkan pihaknya sebenarnya sudah menyarankan agar beras merah cendana ini dikemas dengan cara divakum. Tapi pihak ekportir meminta tidak divakum dan dikirim dengan kemasan biasa.

Kata Sukaarta, beras merah cendana yang dihasilkan Tabanan benar-benar dari pertanian organik yang tidak memakai zat kimia. Selain itu kandungan gizi beras merah juga tinggi.

Hal ini yang menyebabkan beras merah jika tidak disimpan dengan cara divakum akan cepat sekali diserang kutu. “Biarpun tempat penyimpanannya bersih. Disimpan dengan baikpun, beras merah yang tidak disangrai biasanya terkena kutu setelah tiga minggu. Jadi harus divakum jika hendak disimpan dalam jangka panjang,” jelas Sukaarta.

Baca juga:  Masih Tinggi, Peluang Kopi Luwak Bali Sasar Pasar Ekspor

Ia melanjutkan beras merah cendana yang ia ekspor adalah beras yang sudah disangrai. Sehingga periode diserang kutu cukup lama jika dibandingkan beras merah yang tidak diolah. “Beras merahnya disangrai. Karenanya lebih lama diserang kutu. Laporan dari ekportir, setelah enam bulan ada kutunya. Padahal jika dikemas dengan cara divakum, daya tahannya bisa lebih lama,” ujarnya.

Mengenai metode lain yang bisa dilakukan untuk mencegah timbulnya kutu pada beras merah yang dikemas dengan cara biasa, lanjut Sukaarta, hingga sekarang belum ditemukan tanpa menggunakan zat kimia. “Sementara permintaan eksportir adalah beras merah organik, terbebas dari zat kimia dan dikemas biasa,” papar Sukaarta.

Karena permasalahan kutu ini, ia terpaksa menunda pengiriman ekspor tahap dua. Padahal dari pemesanan 15 ton, ia sudah mengumpulkan sebanyak delapan ton.

Agar tidak rugi, Sukaarta terpaksa menjual beras merah yang sudah ia kumpulkan ini ke pasaran dengan harga yang sama dengan beras putih. Meski gagal untuk ekspor kembali, namun Sukaarta tidak menyerah.

Ia mengaku akan tetap mencari pasar ekspor baru. Selain itu ia juga sudah melakukan kerjasama dengan PDDS Tabanan dalam hal penjualan beras merah cendana. “Pasar domestik aman. Cuma sekarang akan usaha lagi agar bisa ekspor kembali,” tuturnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.