TABANAN, BALIPOST.com – Sampah pantai selama ini kerap menjadi permasalahan, terutama saat musim hujan. Namun di tangan I Wayan Sumarta alias Sulok (52) bersama sejumlah anggota komunitas peduli lingkungan, tumpukan sampah pantai berupa ranting dan kayu bisa diolah menjadi produk-produk bernilai seni.

Bahkan, banyak hasil karyanya dibeli oleh masyarakat. Ditemui di banjar dangin jalan, desa Kelating, kecamatan Kerambitan, Jumat (30/11), ditemani rekannya Dewa Surya (55), pria berambut panjang ini memperlihatkan hasil karya seninya dalam konsep gazebo yang dibuat dari potongan-potongan kayu yang hanyut terbawa aliran sungai hingga laut lalu terdampar menjadi sampah di pantai.

Lewat karyanya ini, ia ingin mengajak masyarakat sadar lingkungan dengan cara kreatif namun ‘menohok’. “Minimal bisa menjadi pancingan untuk meningkatkan rasa peduli masyarakat terhadap sampah yang kini sudah mengancam kehidupan khususnya untuk habitat di laut,” ucapnya.

Sebelumnya, Sumarta yang aktivitas lingkungan ini juga pernah membuat sebuah karya seni yakni gubug terbuat dari sampah kayu berdiri di pesisir Pantai Kelating, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan. Hanya saja sempat bertahan satu tahun, gubug tersebut hanyut tergerus ombak enam bulan silam. “Padahal saat ombak begitu besar, gubug ini tetap kuat sampai warga bertanya-tanya pondasi apa yang digunakan. Dan justru saat gelombang mulai kembali normal, pasir di bawah pondasi mulai terkikis hingga akhirnya tergerus dan hanyut,” terangnya.

Baca juga:  Marak, Alih Fungsi Hutan Konservasi ke Tanaman Sayur

Meski gubug sampahnya telah hanyut, Sumarta tetap tak patah semangat menginspirasi generasi muda peduli lingkungan. Kini bersama anggota komunitas peduli lingkungan lainnya, ia kembali berkreasi membuat hasil karya dengan konsep tak jauh beda dengan konsep sebelumnya. “Pantai sangat riskan terhadap iklim dan gelombang, kebetulan ada lahan, kita diberi tempat untuk berkreasi. Konsep sama pada dasarnya dengan di pantai, untuk nantinya mengajak masyarakat berbicara tentang lingkungan. Kita mau buat gazebo dari limbah kayu pantai,” terangnya.

Untuk bahan baku, dikatakan Sumarta, didapat dari sampah di pantai. Meski dengan keterbatasan armada, tiap hari dirinya seakan tidak merasa bosan, karena ia memiliki keyakinan dengan ketulusan hati semua usaha pasti akan mendapatkan jalan terbaik. “Apa yang kita lakukan adalah bahasa dari Tuhan, sehingga bahan yang diperlukan seperti datang sendiri,” ucapnya.

Bagi Sumarta, apa yang dilakukannya ini bersama komunitas peduli lingkungan dilatarbelakangi banyaknya orang yang memiliki sakit ‘mental.’ Banyak yang tidak peduli dan memikirkan dampak sampah. “Kami ingin membuat wahana yang semuanya dibuat dengan bahan sampah, misalnya saja taman bermain ataupun spot selfie, ini untuk memancing mereka mau datang melihat. Saat itulah kita ajak mereka untuk berbicara tentang lingkungan,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.