Pataka dan Panji-panji I Gusti Ngurah Rai diarak serangkaian Hari Pahlawan dan Puputan Margarana. (BP/dok)

Oleh I Nyoman Darwita

Tanggal 20 November 2018 ini, sudah 72 tahun pertempuran habis-habisan di Margarana. Pasukan Bali yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai menghadapi pasukan Belanda dalam upaya mempertahankan kemerdekaan negara. Sama dengan apa yang terjadi di Surabaya, ketika rakyat Surabaya habis-habisan menghadapi pasukan Sekutu yang berupaya masuk lagi ke Indonesia.

Pertempuran Margarana dikenal sebagai Puputan Margarana. Pasukan Indonesia (Bali) bertempur sampai mati menghadapi tentara Belanda. Konon tentara Indonesia yang berjumlah sembilan puluhan itu mampu menewaskan empat ratusan tentara Belanda. Akan tetapi, karena persenjataan yang kalah modern dan jumlah pasukan yang lebih sedikit, anak-buah I Gusti Ngurah Rai akhirnya kalah tetapi meninggalkan jejak nama yang harum: pemberani dan menjaga martabat sebagai pasukan yang lebih mengutamakan kewibawaan prajurit demi mepertahankan tanah kemerdekaan Indonesia.

Pesan pertama yang diperlihatkan oleh pasukan tempur Ciung Wanara ini adalah bahwa keterikatan antara pusat dengan daerah sudah demikian menyatu. Di sini, menyatu itu dimaksudkan mempunyai kesepakatan dan cara pandang yang sama terhadap kemerdekaan Indonesia.  Dengan sendirinya juga mempunyai cara berpikir yang sama. Pada zaman mempertahankan kemerdekaan itu, pola pikir ini sangat diperlukan.

Tujuannya adalah memberikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa tanah air yang dipertahankan itu bukan sekadar Jawa, juga bukan Sumatera tetapi seluruh wilayah seperti yang telah diproklamirkan tahun 1945. Maka, perjuangan rakyat Bali untuk mempertahankan negara ini merupakan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia. Artinya, apabila di daerah mana pun ada lagi upaya untuk kembali menjajah Indonesia, harus dilawan. Kedatangan Belanda dan Sekutu ke Indonesia  setelah kemerdekaan itu, adalah untuk memorakporandakan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, jadi lebih dari pertempuran yang dilakukan di Marga itu, adalah pada konteks puputannya. Di sini mengandung pemahaman yang jelas bahwa semangat sampai mati itu telah terbukti dilakukan, bukan sekadar omong-omong “merdeka atau mati”.

Jiwa semangat dan pembuktian itulah yang diberikan oleh Puputan Margarana ke seluruh rakyat Indonesia: bahwa slogan merdeka atau mati itu bukan sekadar omongan mengambang, tetapi fakta di lapangan tempur. Memang ada kemudian yang memberikan sikap kritis terhadap puputan tersebut.

Dalam arti, jika semua pasukan termasuk komandan gugur dalam pertempuran, tidak akan ada yang tahu, gambaran dari pertempuran itu: bagaimana strategi yang dilakukan, kesulitan apa yang ditemui, ujaran apa saja yang muncul sehari sebelumnya sampai seberapa banyak kebutuhan ransum yang tersedia. Semuanya ini merupakan bahan pengetahuan dalam pertempuran dan peperangan modern. Dengan semua informasi itu, akan mampu diperbaiki atau dibuat metode baru jika ada pertempuran atau peperangan berikut.

Akan tetapi, itu terjadi 72 tahun yang lalu, ketika teknologi dan pengetahuan modern belum muncul. Meskipun kita tidak mampu mengorek lebih jauh tentang strategi yang dipakai tersebut, akan tetapi jejak heroisitas yang ditinggalkan pertempuran Margarana ini telah mampu memberikan pesan melewati batas-batas waktu. Juga mampu memberikan pesan simbolik kepada generasi baru terhadap pertempuran tersebut.

Pesan simbolik yang harus dilihat dari hal ini adalah bahwa, di samping heroisitas tersebut, adalah adanya semangat bersama. Prajurit yang melakukan perlawanan dan kemudian menjadi pahlawan di Margarana itu bukan sekadar dari Bali tetapi dari berbagai tempat di Indonesia.

Baca juga:  I Gusti Ngurah Rai, Penerima Bintang Mahaputra dari Bali

Batu nisan di Taman Makam Pahlawan itu memberikan petunjuk kepada generasi baru bahwa untuk mempertahankan kemerdekaan dan keindonesiaan itu adalah dengan menciptakan semangat bersama, dan itu tidak ada yang membedakan suku, agama, ras dan  golongan. Pesan simbolis ini demikian nyata terlihat  di Margarana dan makam-makam pahlawan lain di Indonesia. Inilah pesan kedua dari pertempuran Maragarana tersebut.

Dengan demikian, secara sosial taman makam ini merupakan sebuah bacaan yang luas tentang Indonesia dan tentang kemanusiaan. Bacaan tentang keindonesiaan dapat dilihat dari nama-nama para pejuang pahlawan yang dimakamkan di sana.

Dari sejarah pertempurannya juga dapat dibaca tentang pembelaan habis-habisan terhadap Indonesia yang baru. Jika kemudian disejajarkan dengan taman makam yang lain di Indonesia, maka bacaan tentang kepahlawanan tersebut bukan saja sejarah tahun 1946 atau 1945 tetapi jauh sebelum itu juga telah ada. Bacaan tentang kemanusiaan akan terlihat setiap tanggal 20 November.

Ratusan bahkan mungkin ribuan peziarah akan datang untuk melakukan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan tersebut. Mereka yang melakukan tabur bunga bukan sekadar tamu pengunjung, tetapi anak cucu dan keturunan dari pahlawan tersebut.

Bisa dibayangkan, berapa lembar cerita heroik, berapa jam narasi perjuangan dan betapa perjuangan istri atau suami yang ditinggalkan oleh para pahlawan itu, untuk menumbuhkan anak-anaknya sampai kemudian mampu meneruskan keturunan pada cucu dan buyut yang hadir dalam tabur bunga tersebut. Inilah merupakan rangkaian  sejarah dan cerita yang dapat memberikan semangat kepada anak-anak muda Indonesia.

Bagaimana pesan pertempuran itu kepada anak-anak muda sekarang? Banyak yang mengatakan jika generasi muda sekarang terlalu santai dalam menyikapi hidup. Bahkan tidak punyai ide dan ikut-ikutan latah bergaya: misalnya memakai tato yang tidak jelas.

Perubahan sosial yang terjadi di Bali saat ini memang jauh melompat, seolah mengangkangi taman pahlawan yang didirikan di berbagai kota di Bali. Lompatan itu dapat dilihat dari tidak banyaknya anak-anak muda yang mencoba memanfaatkan Taman Makam Pahlawan sebagai sebuah kunjungan wisata. Anak-anak muda di Bali sekarang, harus diakui bersikap dan bergerak jauh dari arah itu.

Padahal, Taman Makam Pahlawan Margarana merupakan sebuah bacaan berguna dan indah untuk menambah wawasan dari generasi muda. Dari itu pikiran akan bergerak, menafsirkan berbagai fenomena masa lalu yang dapat menggugah semangat. Museum yang ada di tempat ini juga akan memberikan cerita panjang tentang bagaimana harus berjuang, meniti hidup dan berani menghadapi pilihan hidup.

Jadi, sudah waktunya sekarang anak-muda Bali berhenti memamerkan kekuatan jalanan yang sama sekali tidak ada artinya. Cukup banyak anak muda Bali yang memamerkan kekuatannya di jalanan dengan pamer sepeda motor, mobil, tato dan sejenisnya. Tantangan hidup semakin besar ke depan. Cara untuk itu, mulailah menafsirkan segala  artefak yang ada di Taman Makam Pahlawan. Tidak hanya di Margarana. Inilah yang menjadi kesan ketiga dari pertempuran Margarana.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.