TABANAN, BALIPOST.com – Berbagai persiapan dilakukan serangkaian pujawali di Pura Kahyangan Jagat Luhur Batu Panes, Desa Pekraman Belulang, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yang akan berlangsung Rabu (21/11) atau tepatnya pada Buda Kliwon Gumreg. Setelah puncak karya dilanjutkan nyejer selama tiga hari, serta mesineb Sabtu (24/11) atau Saniscara Pon Gumreg.

Pura berstatus Kahyangan Jagat yang berlokasi tepat di tengah Pulau Bali ini diyakini sebagai tempat memuja Ciwa Pasupati. Ini dikuatkan dengan adanya peninggalan purbakala berbentuk lingga dan arca seperti Arca Ganesha, Arca Durga Mahisasuramardhini, dan Arca Siwa.

Bahkan ketiga arca tersebut sudah dilakukan konservasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gianyar Wilayah Kerja Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pura Khayangan Jagat ini juga dipercaya untuk memohon keselamatan jagat, memohon perlindungan, kemakmuran dan keselamatan tanam tuwuh dari gangguan merana di sawah, tegalan, keajegan jagat dan sebagainya.

Uniknya lagi, di Pura ini juga terdapat sumber mata air panas atau Pura luhur beji yang difungsikan sebagai tempat pasraman/pesucian Ida Batara Luhur Batu Panes. Di Pura Luhur Beji terdapat sumber mata air panas yang debitnya cukup besar.

Air yang bersumber dari mata air inilah dipakai sebagai tempat melukat ataupun permandian, dan dipercaya mengobati beragam jenis penyakit kulit. Tak jarang tiap harinya, pemandian yeh panas belulang ini ramai didatangi oleh warga dari berbagai penjuru.

Baca juga:  Pujawali Purnama Kalima di Pura Pasar Agung, Sehari Langsung Masineb

Bendesa Pekraman Belulang Drs I Nengah Sudana didampingi Manggala Karya yang juga anggota DPRD Tabanan asal Penebel I Nyoman Arnawa, Minggu (18/11) menjelaskan, beragam persiapan jelang Pujawali telah dilakukan oleh krama. Pura ini diempon sekitar 250 kepala keluarga dari Desa Pekraman Belulang, Desa Pekraman Wangaya Netan, dan sebagai Penganceng yakni Puri Kompyang Tabanan. “Persiapan Pujawali sudah dimulai Minggu ini, krama sangat antusias membuat sarana upakara serta ada juga yang bertugas memasang wastra,” ucapnya.

Pujawali yang kali ini bertepatan dengan Purnama, dikatakan Nengah Sudana, tidak jauh beda dengan pelaksanaan Pujawali pada umumnya. Hanya saja memang ada penambahan sarana upakara berupa pedudusan alit.

Sementara itu Manggala Karya, Nyoman Arnawa berharap umat Hindu untuk kiranya bisa ‘nangkil’ guna memohon keselamatan dan keajegan jagat Bali. Apalagi Pura Khayangan Jagat Luhur Batu Panes merupakan jajaran Pura yang mempunyai hubungan yang erat dengan Pura Luhur Batukaru. “Pura ini terletak tepat di tengah Lulau Bali dan diyakini merupakan tempat berstana Bhatara Ciwa Pasupati. Besar harapan kami agar umat sedarma bisa menghaturkan srada baktinya ‘nangkil’ demi keajegan jagat,” ucapnya. (Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.