Embung penampung air yang ada di Banjar Dinas Dalem, Desa Tianyar Tengah, Kecamatan Kubu. Embung itu retak akibat gempa jelang erupsi Gunung Agung setahun lalu. Dan rencananya warga akan menembel embung tersebut agar ketika turun hujan bisa menampung air. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Setiap musim kemarau tiba, warga Banjar Dinas Dalem, Desa Tianyar Tengah, Kecamatan Kubu, kesulitan memperoleh air bersih. Untuk dapat memenuhi kebutuhan air setiap harinya, warga terpaksa beli air bersih dengan urunan antar tetangga.

Menurut seorang warga, I Wayan Pujiyasa, warga jarang mendapatkan air bersih. Apalagi saat musim kemarau seperti sekarang pedagang air bersih jarang datang ke lokasi lantaran medannya terjal serta sulit dijangkau. Setiap bulan hanya 2- 3 kali ke lokasi.

“Sekarang kita hanya andalkan air  pembelian. Biasanya kita pakai seirit mungkin. Untuk masak, dan minum saja. Untuk minum ternak kita carikan sisa-sisa di cubang. Sampai hari ini belum turun hujan di Desa Tianyar,” ungkapnya.

Kepala Dusun Dalem Nyoman Sujana mengakui kondisi itu. Sujana mengatakan, warga membeli air secara urunan. Harga pertangki mencapai Rp 300 ribu – Rp 400 ribu, tergantung medan yang dilalui.

Seandainya dibagian atas harga bisa Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu pertanki. Dimana air yang dibeli itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama seminggu. “Biasanya mereka patungan air ber 4 KK. Setiap KK patungan 100 ribu. Air cukup untuk seminggu,” imbuh Sujana sembari mengaku, beberapa sumber air di Desa Tianyar Kering.

Ditambahkan, warga kesulitan air bersih sejak awal tahun 2018. Sampai sekarang tak ada turun hujan. Jumlah KK yang kesulitan memperoleh air bersih mencapai 268 KK. Bantuan air dari pemerintah daerah belum ada sama sekali. Atas kondisi ini, pihaknya berharap pemerintah daerah bisa mendistribusikan air bersih untuk membantu warga.

Baca juga:  Potensi Bencana Masih Ada, Warga Bantas Disarankan Mengungsi Saat Hujan Deras

Sujana menjelaskan, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian sudah memberikan bantuan embung untuk menampung air ketika turun hujan, tahun 2016. Hanya saja, saat ini embung tidak bisa difungsikan akibat retak ketika awal-awal Gunung Agung erupsi setahun lalu.

“Sebelumnya sempat berisi air hujan. Tapi pas gempa-gempa saat menjelang erupsi, cubang retak di sejumlah titik. Sehingga air yang ada di cubang merasap ke tanah,” jelasnya.

Agar embung bisa dipergunakan kembali, maka warga sudah sepakat untuk melakukan penembelan di bagian yang retak.

Sementara, Kepala Pelaksana (kalak) BPBD Karangasem, IB Ketut Arimbawa mengatakan, atas kesulitan air bersih itu, pihaknya bersedia membawakan air bersih ke daerah kering, dengan catatan harus ada surat permohonan dari desa bersangkutan. Jika surat sudah masuk, BPBD laangsung kaji. “Kalau sudah ada tembusan surat ke BPBD, PMI, atau Dinsos pasti langsung dibawakn air. Sebelum air didistribusikan, kita kaji dulu medan dan tempat penampungannya (cubang). Kalau fix, BPBD langsung mmbawa air,” janji Arimbawa.

Lebih lanjut dikatakannya, desa yang sudah memohon bantuan air bersih di BPBD yakni Desa Nawakerti, dan Datah Kecamatan Abang. “Daerah yang rawan kering di Kecamatan Kubu, Abang, dan Seraya Timuur,” tambah Arimbawa. (eka prananda/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.