HONG KONG, BALIPOST.com – Digital Media Asia (DMA) 2018 dibuka secara resmi Kamis (8/11) di The Mira Hong Kong. Pertemuan yang digelar setahun sekali secara bergantian di Singapura dan Hong Kong ini digelar World Association Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA).

Menurut Chief Operating Officer (COO) WAN-IFRA, Thomas Jacob, kegiatan tahunan diikuti sekitar 412 partisipan dari 40 negara. Dari Asia hingga Amerika Serikat (AS) berpartisipasi dalam pertemuan yang diselenggarakan selama 2 hari hingga Jumat (9/11) ini.

Ia mengutarakan DMA diselenggarakan pertama kali 10 tahun lalu ketika Barrack Obama mempopulerkan penggunaan Twitter untuk kampanyenya dalam Pemilihan Presiden AS ketika itu. Saat ini, tantangan melakukan transformasi digital bagi industri media cetak sangat besar, terutama dalam hal monetisasi.

Dalam kegiatan dua hari ini, kata Jacob, dilangsungkan sejumlah diskusi panel yang mengangkat kisah-kisah sukses dari perusahaan media. Para pembicara berasal dari Asia hingga AS. “Dalam dua hari, akan ada sejumlah topik yang dibahas, yakni iklan native, kerjasama dengan platform lain, konten berbayar, dan teknologi serta inovasi yang membantu media dalam memonetasi konten,” jelasnya.

Baca juga:  Selama Puasa, Okupansi Hotel Turun

Salah satu kisah sukses yang didiskusikan setelah pembukaan DMA 2018, adalah reformasi digital South China Morning Post (SCMP). CEO SCMP, Gary Liu mengatakan proses transformasi digital SCMP berjalan mulai Januari 2016. Sejauh ini hingga September 2018, sudah cukup banyak perubahan yang terjadi.

Ia menyebutkan perubahan itu terutama dalam hal penyampaian berita ke pembaca. Dari data yang dikumpulkan, terjadi peningkatan signifikan dalam konten berita video. Selain itu, terjadi peningkatan pembaca dari luar Hong Kong yang saat ini komposisinya mencapai 90 persen. “Pembaca kami 90 persen di luar Hong Kong. Sekitar 30 plus persen dari AS dan 30 persenan lainnya dari Asia Tenggara,” paparnya.

Dalam melakukan transformasi digital, ada 5 hal yang dilakukan, yakni newsroom, definisi baru untuk produk editorial, pengalaman baru dari pelanggan, pengayaan dari analisa digital, dan pengayaan teknologi. “Dalam melakukan transformasi digital ini adalah keterlibatan dan interaksi komunikasi,” jelasnya. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.