Tanaman padi di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung kekeringan. (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Musim kemarau yang semakin parah menyebabkan hektaran padi di Subak/Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung kekeringan. Petani pun dibuat kelimpungan dengan hal tersebut.

Berdasarkan pantauan, Kamis (18/10), kekeringan terjadi pada padi berumur sekitar 45 hari. Beberapa petak sudah ada yang menguning dan mati. Tanahnya pun pecah-pecah.

Klian Subak, Ketut Tanggin mengatakan kesulitan air sudah berlangsung sekitar tiga pekan lalu. Petani hanya bisa pasrah menghadapi itu. Niatnya untuk mendapatkan penghasilan sudah dilakukan dengan menanam jagung, namun juga turut mati. “Untuk padi, satu hektar sudah mati. Untuk lahan yang lain sudah mulai mengering. Umur padi sekitar 45 hari. Masih sangat membutuhkan air,” tuturnya.

Disampaikan lebih lanjut, fenomena alam itu baru pertama kali terjadi. Bertepatan pula, tak ada petani yang ikut asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang digulirkan pemerintah. “Untuk petani sudah sempat diimbau supaya ikut asuransi. Tetapi tidak ada yang mau karena sebelummnya tidak pernah seperti ini. Kalau padi rusak, paling sekitar dua sampai lima persen. Tidak banyak,” jelas klian yang juga bertugas di Dinas Pertanian Klungkung ini.

Baca juga:  Padi di Subak Pangkung Gondang Diserang Keong

Seorang petani, Wayan Kari mengatakan kekeringan membuat pertumbuhan tanaman bunganya lebih lambat dan kerdil. Hal tersebut berimbas pada hasil panennya yang menurun. “Untuk panen tidak seperti sebelumnya. Sekarang lebih sedikit karena kurang air,” terangnya.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Wayan Wiarta menjelaskan petani sudah berupaya untuk lepas dari jeratan kekeringan dengan membagi air bersama tempek lain. Namun, akibat lahan berpasir yang membutuhkan air lebih banyak, membuatnya tak mendatangkan hasil maksimal. “Petani sudah berupaya menangani ini. Tapi kondisi tanahnya berbeda,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Gde Juanida mengaku belum menerima laporan soal itu. Namun dirinya mengimbau petani untuk selanjutnya ikut program asuransi. “Potensi gagal panen kan tidak hanya karena serangan hama. Tetapi juga karena kekeringan. Kami terus sosialisasikan asuransi ini kepada petani,” jelasnya.

Dinyatakan pula, musim kemarau ini memang menyebabkan debit air menurun. “Subak juga sudah kami sarankan untuk membersihkan saluran irigasi supaya aliran air lebh lancar,” imbuhnya.(sosiawan/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.