Tim Multi Bintang Indonesia memberikan edukasi terkait penyajian dan pembuatan beer di gedung Bali Post, Denpasar, Rabu (17/10) . (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Serangkaian Oktoberfest, PT. Multi Bintang Indonesia (MBI) Tbk., melakukan edukasi pembuatan dan penyajian bir. Kegiatan digelar di Kantor Bali Post, Rabu (17/10).

Menurut Michael Bliss dan Joana Loing, Corporate Communication Manager PT Multi Bintang Indonesia Tbk, kegiatan ini untuk merayakan Oktoberfest. Perayaan ini dulunya berawal di Jerman. Merupakan festival dua-mingguan yang diadakan setiap tahun yang digelar di Munchen, Bayern, Jerman.

Kegiatan umumnya dilakukan pada akhir September dan awal Oktober. Festival ini merupakan salah satu acara paling terkenal di kota ini dan juga merupakan festival terbesar di dunia dengan sekitar 6 juta pengunjung setiap tahunnya.

Kota-kota lain di dunia juga mengadakan festival-festival dengan menggunakan festival di München ini sebagai model. Bahkan, menggunakan nama Oktoberfest.

Dijelaskan Joana, MBI sudah ada sejak 1931. Di awal MBI hadir dengan nama Javabeer.

Pada tahun 1936, tempat kedudukan perusahaan dipindahkan dari Medan ke Surabaya dan Heineken menjadi pemegang saham terbesar perusahaan dan berubah nama menjadi N.V Heineken’s Nederlandsch-Indische Bierbrouweerijen Maatschappij. Lalu pada tahun 1951, Perusahaan kembali berubah nama menjadi Heineken’s Indonesische Bierbrouwerijen Maatschappij N.V.

Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan, brewery kedua dibangun di Tangerang pada 1936. Di tahun yang sama, perusahaan berganti nama menjadi PT Perusahaan Bir Indonesia.

Brewery kedua ini kemudian mulai beroperasi pada tahun 1973. Pada 1 January 1981, Perusahaan mengambil alih PT Brasseries de l’Indonesia yang memproduksi bir dan minuman ringan di Medan.

Untuk mencerminkan peningkatan usaha dan aktifitas akuisisi ini, sejak tanggal 2 September 1981, nama perusahaan menjadi PT Multi Bintang Indonesia dan tempat kedudukan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Perusahaan juga mencatatkan sahamnya di Bura Efek Indonesia (BEI).

Baca juga:  Sidak BBPOM, Ditemukan Penyajian Makanan Kurang Higienis

Pada tahun 1997, kegiatan produksi di Surabaya dipindahkan ke Sampang Agung, dimana dibangun fasilitas produksi baru. Di tahun 2010, Asia Pacific Breweries Limited (APB) dari Singapura mengakusisi saham mayoritas dari Heineken International B.V (HIBV) di perusahaan.

Namun, di bulan September 2013, HIBV kembali menjadi pemegang saham utama Perseroan, ketika mengakusisi saham mayoritas perusahaan hingga saat ini.

Di 2014, Multi Bintang sekali lagi menciptakan tonggak sejarah dengan membangun fasilitas produksi baru yang dilengkapi teknologi canggih untuk memproduksi minuman non-alkohol di Sampang Agung, Jawa Timur. Dengan investasi sebesar Rp 210 miliar, fasilitas produksi ini dibangun hanya dalam waktu 9 bulan dan secara resmi beroperasi pada Agustus 2014.

Dengan sejarah panjang di Indonesia, perusahaan pun identik dengan salah satu produk unggulan yaitu Bir Bintang, sebuah merek ikonik dan telah dikenal luas di Indonesia. Multi Bintang juga memproduksi dan memasarkan merek bir premium internasional, Heineken®; kategori 0,0% alkohol, minuman bebas alkohol Bintang Zero dan Bintang Radler 0,0%; dan inovasi terbaru Bintang Radler, kombinasi unik Bir Bintang dengan jus lemon alami yang memberikan kesegaran ganda, sekarang tersedia juga dalam varian berbeda, Bintang Radler Grapefruit dengan jus grapefruit alami; minuman fine soda, Fayrouz; minuman ringan Green Sands; dan merek cider nomor satu di dunia, Strongbow.

Selain memproduksi bir, MBI juga melakukan kegiatan sosial dengan bertumpu pada 6 pilar. Tujuannya untuk menjaga keberlangsungan lingkungan.

Sementara Draughtmaster dari PT Multi Bintang Indonesia Tbk, Deden, menjelaskan tentang cara produksi bir dan penyajiannya. “Ada 4 bahan utama pembuatan bir, yakni air, ragi, bunga hops, dan barley (gandum),” jelasnya. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.