Peserta dan penyelenggara GRACE 2018 berfoto bersama usai seminar tentang strategi marketing restoran. (BP/rin)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kompetisi bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi bisnis hospitality seperti restoran saat ini. Ada pula tantangan internal dan eksternal.

Dari dalam, banyak sekali restoran yang gagal menjaga konsistensi produk. Kendati, produk itu sebelumnya sudah sangat dikenal oleh pasar. Lantaran gagal menciptakan sebuah konsistensi, konsumen akhirnya berpindah mencari produk baru. “Kemudian dari luarnya, selain kompetisi yang tidak bisa kita hindari, adalah perilaku dari customer itu sendiri yang perilakunya sudah ke era revolusi industry 4.0 ini,” ujar Ketut Swabawa, narasumber seminar tentang strategi marketing restoran dalam Green Restaurant and Culinary Events (GRACE) 2018 di Bali Dynasty Resort, Kuta, Badung, Senin (15/10).

Disruption dan segala sesuatu berbasis internet, lanjut Swabawa, kini telah menjadi kebiasaan sehari-hari dari customer. Inilah yang umumnya tidak bisa diserap oleh pelaku usaha restoran. Dalam hal ini, pelaku usaha restoran tidak bisa menyesuaikan produk, layanan dan cara berpromosi dengan gaya hidup di masyarakat.

Itu sebabnya, penting untuk terlebih dulu memahani unique selling point, mengetahui perilaku customer baik yang sudah datang maupun belum ke restorannya, sebelum akhirnya masuk ke digital marketing. “Digital marketing untuk bisnis restoran itu sifatnya sesuatu yang dinamis dan agresif. Berbeda dengan bisnis hotel yang volumenya besar dan sudah terprediksi karena bisnis restoran tidak bisa diprediksi. Tamu bisa saja datang besok atau sore ini,” jelasnya.

Swabawa menambahkan, rumus restoran di dalam hotel bahkan sudah sangat pasti. Yakni, bagaimana cara mencuri tamu dari hotel tetangga. Sebab, tamu hotel umumnya tidak lebih dari 8 persen yang makan di restoran hotel itu.

Selebihnya memilih makan di luar karena ingin mendapat suasana baru, bosan dengan tempatnya menginap, atau mendapat tawaran promosi dari tempat lain yang dekat dengan hotelnya. “Sehingga restoran di hotel kita sendiri juga harus menerapkan hal yang sama. Customer kita dicuri, kita juga harus berusaha untuk mencari customer orang lain. Yaitu dengan cara menemukan kelemahan usaha restoran lain dan pastikan tamu mendapatkan kelebihannya di hotel kita,” terangnya.

Baca juga:  Ini, Kunci Sukses Jalin Komunikasi

Menurut Swabawa, para pengambil kebijakan di bisnis restoran perlu memberdayakan teknologi informasi. Cara-cara promosi lama yang cenderung offline harus diubah. Apalagi, customer saat ini banyak membutuhkan referensi untuk makan. Referensi paling cepat adalah melalui media elektronik dan sosial media.

GRACE 2018 telah memasuki hari terakhir kemarin. Closing ceremony antaralain diisi dengan pemberian apresiasi dan sertifikat bagi semua partisipan, vendor, sekolah-sekolah pariwisata, dan para pemenang kompetisi. Acara ini rencananya akan kembali digelar 2020 mendatang. “Kita akan kontinu nanti setiap dua tahun melakukan hal yang sama seperti ini, mudah-mudahan nanti tempatnya lebih besar dan support dari pemerintah juga akan lebih besar untuk kegiatan pariwisata demi pariwisata Indonesia dan Bali khususnya,” ujar Ketua Penyelenggara GRACE 2018, I Ketut Darmayasa.

Menurut Darmayasa, para peserta sangat antusias untuk mengikuti kompetisi dan seminar yang digelar dalam GRACE 2018. Kendati untuk pengunjung umum masih belum sesuai dengan ekspektasi karena promosi yang terbatas.

Sementara itu, salah seorang peserta seminar, Samsul Azhari mengaku sangat terkesan dengan GRACE 2018. General Manager The Sun Hotel ini bahkan jauh-jauh datang ke Bali dari Madiun, Jawa Timur. “Acara ini sangat bagus sekali, unsur exhibition-nya masuk, edukasi-nya masuk, entertainment-nya juga bagus, very well organize. Kemudian, semua praktisi perhotelan bisa masuk kesini. Itulah kenapa saya jauh-jauh berangkat kesini,” ujarnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.