Bupati Banyuwangi melihat-lihat jajanan gula merah yang dijual warga Desa Rejoagung. (BP/udi)

BANYUWANGI, BALIPOST.com – Menjadi pusat pengrajin gula merah, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, menawarkan festival unik. Aneka jajanan tradisional, berbahan dasar gula merah ditawarkan. Selain melestarikan kuliner tradisional, kegiatan ini ikut mengembangkan ekonomi kreatif. Seperti digelar, Senin (15/10). Desa ini mendeklarasikan sebagai Kampung Jajanan Gula Merah.

Beragam jajanan ditawarkan. Mulai dari getuk, kue latuk, es dawet, klepon, utri, kue lapis gula merah, kue cucur, es degan gula merah, singkong bulat, rujak buah, hingga rengginang manis gula merah. Seluruhnya, hasil kreasi warga setempat. Kebetulan, mayoritas warga sebagai pengrajin gula merah. “ Jadi, kami ingin melestarikan jajanan tradisional berbahan dasar gula merah. Sekaligus, melestarikan ekonomi warga,” kata Kades Rejoagung Usnatun Sulasiatin.

Ditambahkan, dipilihnya jajan berbahan dasar gula merah, karena hampir separuh warganya berprofesi sebagai produsen gula merah. Bahkan, gula merah produksi desa ini sudah masuk pasar Bali hingga Surabaya. “Potensinya besar, makanya kami pilih tema jajanan gula merah. Bisa meningkatkan nilai tambah ekonomi gula merah. Kami jamin, gula yang digunakan di sini adalah gula merah organik, tanpa sulfit,” jelas Usnatun.

Baca juga:  Gaet Wisman, Karangasem Andalkan Destinasi Ikonik dan Festival

Kampung kuliner ini dibuka setiap Sabtu sore dan Minggu mulai pukul 15.00 WIB hingga 21.00 WIB. Khusus hari biasa, dibuka mulai pagi sampai malam hari.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi ide kreatif ini. Menurutnya, ini bukti warga Banyuwangi sangat mendukung pengembangan industri pariwisata. “Ini idenya langsung dari warga desa setempat, termasuk pengerjaannya. Saya sangat mengapresiasi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah sadar potensi yang dimilikinya. Mereka lalu merancang ide, mengemasnya, dan ternyata hasilnya menarik,” puji Anas usai menghadiri Festival Jajanan Gula Merah tersebut.

Anas menambahkan, hadirnya festival ini sebagai contoh kolaborasi yang baik pemerintah desa dan warganya. Lokasinya, memanfaatkan lahan tidak produktif milik salah satu warga. Pihaknya berharap kegiatan ini bisa menumbuhkan ekonomi warga. Menambah peredaran uang di desa. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.