GIANYAR, BALIPOST.com – Mengambil lokasi di lapangan Astina, Kelurahan Ubud, Festival Desa Wisata Nusantara dibuka pada Jumat (12/10). Festival yang digelar selama tiga hari dari 12 hingga 14 Oktober ini, menampilkan perwakilan desa wisata di beberapa kabupaten, kerajinan dan kuliner nusantara.

Kegiatan ini dibuka dengan pemukulan gong oleh Dr. Vitria Ariani selaku Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Pedesaan dan Perkotaan Kementerian Pariwisata RI.

Ketua Panitia Festival, Mangku Kandia, menyatakan festival ini baru pertama kali digelar. Festival yang berlangsung tiga hari berturut-turut hingga Minggu nanti, terdapat beragam agenda.

Diantaranya, memasak, melukis, permainan gangsing, seminar desa wisata, tour desa wisata dan hiburan band. “Festival Desa Wisata Nusantara pertama ini sekaligus merayakan 92 tahun Ubud menjadi desa wisata,” katanya.

Vitria Ariani mengatakan festival Desa Wisata Nusantara ini merupakan wujud dalam menyokong program pemerintah pusat, yakni membangun dari pinggiran. Mewujudkan program itu salah satunya dengan membentuk desa wisata.

Dikatakan desa bukan dibentuk menjadi pariwisata, melainkan dijadikan sebagai alat untuk mewujudkan pariwisata. “Dengan adanya desa wisata, ekonomi maju. Di Bali, tidak hanya Ubud, ada Tegalalang, Tabanan, dengan persawahanya. Ini bisa dijadikan pembelajaran berbasis pariwisata,” jelasnya.

Dikatakan turis yang ke Indonesia, sebanyak 60 persen datang dengan alasan ingin menyimak budaya Indonesia. Melalui festival desa wisata ini, pihaknya berharap desa wisata lain di Indonesia bisa berkembang sporadik. “Dengan catatan, tidak boleh kehilangan nilai luhur desa, tidak boleh kehilangan roh desanya, tidak boleh kehilangan kearifan lokalnya,” jelasnya.

Baca juga:  Paruman Dharma Ghosana, Ini Harapan dan Tujuannya

Membangun desa wisata, menurut Vitria tidak harus menyulap desa. Ditekankan pengembangan desa wisata harus pakai hati. “Contoh di Bali masih pakai kamben dan kebaya, kenapa masih mau? Itu yang harus dipelajari oleh desa lain. Jadilah seperti Bali, budayanya masuk ke hati, bukan budaya yang dikomersialkan,” tukasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang hadir pada kesempatan itu mengatakan Ubud sebagai salah satu desa wisata tak lepas dari peran almarhum ayahnya, Tjokorda Gde Agung Sukawati yang sudah mempromosikan Ubud sejak 1926 silam. “Hampir 100 tahun, baru bisa lihat hasilnya. Pariwisata itu mengaltukurasi budaya agraris dengan wisata. Jangan sampai akulturasi menghilangkan akar budaya,” ucap pejabat yang juga penglingsir Puri  Ubud ini.

Cok Ace mengatakan dalam membangun pariwisata yang paling sulit adalah membangun manusianya, lalu membangun alam. Dikatakan desa wisata tidak akan tumbuh tanpa ada dukungan semua kalangan masyarakat desa. “Di sini kadang perlu proses merubah mindset, dari yang awalnya agraris menjadi pariwisata,” katanya.

Dijelaskan ada beberapa hal perlu diperhatikan dalam membangun desa wisata. Pertama  desa wisata berbasis masyarakat. “Artinya ketika masyarakat menjadi penonton, jangan salahkan kesenjangan. Jadikan masyarakat subjek,” jelasnya.

Kedua, kata Cok Ace, desa wisata harus berskala kecil, sementara bila berskala besar justru masyarakat yang kurang merasakan. “Pemerintah juga tidak bisa berpatokan pada PAD, karena desa wisata dengan PAD yang besar belum tentu dirasakan oleh masyarakat,” pesannya. (Adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.