Bendungan Benel di Desa Manistutu saat musim kering ini mengalami penyusutan. Dari kapasitas bendungan menampung 2.500.000 kubik, saat ini hanya ada 2.200 kubik. (BP/olo)

 

NEGARA, BALIPOST.com – Musim kemarau yang terjadi belakangan ini memicu sejumlah sumber air menyusut. Termasuk sejumlah bendungan di Jembrana mengalami penyusutan volume air.  Seperti yang terlihat di Bendungan Benel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya. Bendungan yang difungsikan untuk pengairan dan sumber air baku (air bersih) ini mengalami penurunan tinggi air.

Bendungan yang mengairi ribuan hektar sawah di Kecamatan Melaya dan Negara itu nampak surut hingga beberapa meter.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Pemukiman (PUPRKP) Jembrana I Wayan Darwin ditemui Jumat (12/10) membenarkan kondisi bendungan yang mengalami penurunan volume air dari biasanya. Secara kasat mata terlihat sedimentasinya, tetapi menurutnya fungsi bendungan untuk menampung air masih terjaga. Disebutkannya total kapasitas air yang tertampung di Bendungan Benel adalah 2.500.000 kubik. Saat ini turun volume air diperkirakan tersisa 2200 kubik, turun dari kapasitas biasanya. Fungsi Bendungan yang dibangun tahun 2006 lalu ini selain untuk irigasi sawah, juga kelebihan air digunakan untuk air baku. Jumlahnya untuk fungsi air baku ini, 64 liter per-detik.

Namun kendati mengalami penurunan, masih diatas batas air minimal yakni 1500 kubik. Batas minimal itu menurutnya tidak boleh berkurang lagi dari bendungan. Selain memasuki masa kering, pintu air bendungan juga dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air subak-subak. Bendungan Benel ini mengairi lima subak dengan luas 1.047 hektar. Selain untuk menampung air hujan, bendungan ini menampung air dari sumber mata air sungai Tukadaya dan Pegubug.

Baca juga:  Debit Air Baku Turun Drastis, Sawah di Lima Kecamatan Rawan Kekeringan

Saat ini Bendungan Benel juga dilakukan pembangunan sistem penyediaan air baku (pipanisasi) yang nantinya digunakan untuk air bersih. Dari informasi pengerjaan proyek yang sedang berjalan ini sudah mendekati rampung. Di awal pembangunan sempat mendapat protes dari sejumlah subak, mereka khawatir penggunaan air bendungan untuk air baku berdampak subak mereka tak teraliri air irigasi. Namun ditegaskan bahwa pemanfaatan fungsi untuk air baku ini hanya saat kelebihan air bendungan. Di saat air menyusut seperti saat ini, air tidak akan digunakan. “Hanya saat ada lebih air, itu pun sisanya daripada terbuang. Karena sejak awal fungsi Bendungan ini selain untuk irigasi juga untuk air baku,” ujar Darwin. (surya dharma/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.