DENPASAR, BALIPOST.com – Demo menentang IMF-World Bank (WB) kembali di gelar di Renon, Denpasar Timur (Dentim), Jumat (12/10). Kali ini sasaran Gerakan Rakyat Menentang (GRM) IMF-WB ini adalah Kantor Konjen Amerika di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Aksi dengan Korlap Muhammad Ali ini berjalan aman dan tertib dengan pengawalan ketat ratusan personel Polri dan TNI. Namun mereka tidak bisa merapat ke pintu masuk Konjen karena terhalang kawat berduri dan mobil water canon polisi yang parkir di sana.  Tak hanya kalangan mahasiswa, seorang kakek berpakaian hitam dan topi koboi hitam ikut aksi tersebut. Kakek tersebut nampak kelelahan dan sempat berteduh di bawah pohon kelapa di areal bundaran Renon. Karena gerah, kakek tersebut melipat poster yang dia bawa lalu dipakai mengipas-ngipas dirinya.

Selain itu, menurut petugas ditemui di lapangan, ada dua WNA yang mengikuti dari belakang aksi tersebut sambil memotret dan merekam video. Petugas curiga dengan kedua WNA tersebut lalu diajak masuk ke Plaza Renon dan dimintai keterangan. “Mungkin sudah dilepas,” kata petugas tersebut.

“Kita ada di (depan) Konjen Amerika. Lihat, di depan Konjen itu dijaga ketat. Kenapa aksi kita di sini? Karena kita punya pandangan teguh bahwa dunia hari ini dikuasi imperialis nomor satu di dunia. Menindas seluruh dunia dengan berbagai bentuk organisasi-organisasi keuangan,” teriak Ahmad saat berorasi.

Peserta aksi yang jumlahnya sekitar 100 orang ini membawa spanduk, pamflet dan poster, diantaranya bertuliskan bubarkan IMF-WB, akhiri kemiskinan, tolak PLTU Batubara Celukan Bawang, hentikan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan, serta hentikan kekerasan, kriminalisasi terhadap rakyat atas nama pembangunan.

Baca juga:  Petinggi AD Australia Kunjungi Makodam IX/Udayana

GRM IMF-WB menuntut dihentikannya semua bentuk kesepakatan dan kerja sama utang dengan IMF-WB. Selain itu mereka menyampaikan beberapa tuntutan, diantaranya hentikan pembangunan yang bergantung pada utang dan investasi asing, hentikan pertemuan tahunan IMF-WB telah memboroskan uang rakyat di tengah penderitaan rakyat korban bencana alam di Palu dan Donggal, Sulawesi Tengah, serta Nusa Tenggara Barat. Menolak segala bentuk perampasan tanah dan hak hidup rakyat Bali akibat proyek pembangunan kawasan pariwisata dan infrastruktur penopangnya.

“Kepada bapak-bapak ibu-ibu yang tidak setuju dengan aksi ini, mohon jangan bertindak dulu. Berikan peserta aksi menyampaikan aspirasinya,” kata Kabag Ops Polresta Denpasar Kompol Nyoman Gatra, dari atas mobil dipasang pengeras suara.

Kompol Gatra kembali menghimbau kepada kelompok-kelompok yang menentang aksi tersebut, agar diam dulu dan tenang. “Kesepakatannya sampai pukul 11.00 (Wita). Berikan waktu teman-teman komunitas ini melaksanakan aksinya,” tandas mantan Kapolsek Kawasan Laut Benoa ini.

Peringatan Kompol Gatra tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya ada beberapa warga yang tidak suka aksi tersebut berusaha mendekati pendemo. Namun polisi lansung menghalaunya.
Sempat negosiasi antara kepolisian dan perwakilan aksi. Pasalnya pendemo minta perpanjangan waktu. “Hasil kesepakatan kami berikan perpanjangan waktu orasi lagi 15 menit,” tegas Kompol Gatra.

Setelah waktunya habis, pendemo dengan tertib meninggalkan lokasi tersebut. Mereka dikawal ketat petugas berjalan kaki menuju tempat awal kumpul yaitu Lapangan Puputan Margarana, Renon. (kerta negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.