Salah satu rumah warga di Lingkungan Ketapang, Kelurahan Lelateng yang ambruk dan nyaris menimpa penghuni rumah. Dari data di RSU Negara ada sembilan orang warga Jembrana yang sempat mendapatkan perawatan karena luka ringan. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Gempa yang terjadi Kamis dini hari dan terasa hingga di Jembrana membuat warga yang sebagian besar masih di dalam rumah panik. Apalagi jam-jam itu banyak warga yang masih terlelap tidur. Sehingga warga berhamburan keluar rumah mencari tempat terbuka. Kendati tidak ada bangunan yang ambruk sampai parah menimpa warga, namun dari informasi tercatat sembilan orang mengalami luka-luka saat menyelamatkan diri itu.

Kesembilan orang tersebut dirawat di IRD RSU Negara kemarin dan kesemuanya sudah dipulangkan (rawat jalan). Direktur RSU Negara, Made Dwipayana melalui Humas RSU Negara, Asrika Wedayanti dikonfirmasi siang kemarin mengatakan kesembilan pasien yang mengalami luka ringan itu sudah dibolehkan pulang. “Tidak dirawat inap, sebagian besar luka ringan seperti keseleo dan terbentur benda karena panik keluar rumah,” terangnya.

Sembilan warga yang sempat mendapatkan perawatan itu di antaranya, Ni Ketut Tuti Parwati (39) asal Penyaringan, I Putu Sentana (45) asal Pangkung Liplip, Dr Metya Dewi (34) dari Banjar Tengah, Daffta Rizky Alvan (6) dan Kristian Tri Hardiyanto (31) asal Tegal Badeng Timur, Komang Aris Setiawan (19) asal Kaliakah, I Gede Yasa Priadi (23) asal Lelateng, Dewi Darmawati (45) asal BB Agung dan IA Anggraeni dari Loloan Timur.  Satu mengalami patah tulang di sekitar leher karena terjatuh saat berlarian namun bisa ditangani.

Baca juga:  BPJS Kesehatan Tampik Telat Bayar Klaim ke Rumah Sakit

Sejatinya lebih dari sembilan warga yang mengalami luka tersebut. Namun lantaran ringan mereka tidak membawa ke RSU.  Seperti yang dialami Dharma Putra asal Kelurahan Lelateng.  Tembok rumahnya yang terbuat dari batako ambruk ke sisi luar rumah.

“Untungnya jatuhnya ke luar, kalau ke tengah bisa adik saya kena timpa tembok. Dia tidur bersebelahan dengan tembok kamar itu,” ujarnya.

Rumah milik I Wayan Budiarta itu kini separuh terbuka. Bahkan kusen jendela terpaksa disangga menggunakan ranting pohon agar tidak ikut roboh.  Saat gempa terjadi, Putra (20) langsung berlari keluar rumah dan sempat terbentur kakinya. (surya dharma/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.