Kemenpar menggelar diskusi "Road to Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2019 - Prospek dan Tantangan Pariwisata 2019." (BP/son)

BANDUNG, BALIPOST.com – Pariwisata menjadi sektor penting bagi Indonesia dan menjadi unggulan bukan hanya stakeholder namun sektor lainnya sehingga siap mendukung guna mengembangkan pariwisata. “Tantangan pariwisata sangat berat terlebih tantangan deregulasi ditambah harus bergerak cepat di jaman milenial dengan negara lain yang terus bergerak mengembangkan pariwisata khususnya di Asean,” kata Sesdep Pengembangan Pemasaran 1 Kemenpar Edy Wardoyo saat membuka diskusi di STP NHI Bandung, Rabu (10/10).

Diskusi bertajuk Road to Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2019 – Prospek dan Tantangan Pariwisata 2019″ yang mengangkat tema Deregulasi di Era Cyber Tourism dihelat Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) menghadirkan pembicara Staf Ahli Menpar Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Prof. I Gde Pitana, Kadisbudpar Jabar Ida Hernida, dan Akademisi LSPR Rizka Septiana, serta Kapuskom Publik Kemenpar Guntur Sakti.

Menurut Wadoyo, tantangan pariwisata tidak ringan, namun diyakini bahwa jika semua bergandengan tangan untuk membawa peran dalam menggali serta membuat untuk kepentingan pariwisata Indonesia di ke depannya, tentu sektor pariwisata akan mengambilalih peran dalam menghimpun devisa bagi negara.

Sementara Guru Besar Universitas Udayana Prof. I gde Pitana mengatakan, sejak tahun 2015, pertumbuhan di negara berkembang termasuk Indonesia mengungguli negara maju termasuk Eropa. Pertumbuhan wisman ke negara berkembang dua kali lebih cepat dibandingkan negara maju.

Ada tiga titik perjalanan yakni pertama origin yakni daerah wisatawan itu berasal, lalu kedua destinasi kemana wisman menuju, ketiga ada transit origin atau daerah perlintasan.

Selain itu, kata dia, harus melihat permintaan pasar yang dikenal tourism demand yakni jumlah orang bepergian, maka ada travel propensity di mana ada persentase populasi yang melakukan perjalanan wisata dalam satu tahun. Travel propensity juga dipengaruhi oleh faktor makro, mikro dan intermediary.

Faktor makro, kata Pitana, pertumbuhan ekonomi dan itu yang penting, situasi politik serta karakteristik populasinya dan yang terakhir soal keamanan. Mikro yakni gaya hidup, jenis pekerjaan, motivasi perjalanan, jiwa petualang, tahapan dalam siklus hidup. Intermediary dilihat dari harga, sistem transportasi, fasilitas akomodasi dan aktivitas kalangan industri dalam pemasaran dan promosi.

Baca juga:  Andalkan Sektor Pariwisata, Indonesia Punya Kesempatan Kejar Ketertinggalan

Pertumbuhan ekonomi tahun 2016, 2017, 2018 semua pasar tumbuh dengan baik, India misalnya 7,2 persen, China 6,7 persen. Selain itu ada pula pertumbuhan outbound atau jumlah orang keluar dan semua pasar yang ditargetkan Indonesia meningkat.

Lalu ada lagi perubahan psikografi pasar. Menurut Pitana, dulu sedikit menggunakan digital, dulu menggunakan travel agent dan sekarang semua serba menggunakan internet.

Kemudian bagaimana Indonesia ke depannya, Pitana melihat dari kesiapan destinasi, lalu di 2019 akan ada pilpres dan pileg, kemudian dari sisi bencana alam. Bencana alam adalah hal yang biasa di mana saja, jangan dibuat berlebihan selain itu soal terorisme. “Destinasi tidak selamanya harus siap dahulu namun benahi secara perlahan untuk siap menerima wisatawan,” kata Pitana seraya mengambil contoh ketika Bali mulai dikembangkan sebagai daerah wisata.

Terakhir,, negara pesaing sangat serius mengembangkan pariwisata untuk menggaet pasar dari Indonesia. Menurut Pitana, lebih dari 70 persen wisatawan menggunakan jari buat informasi, para pekerja pariwisata tidak bisa memiliki alasan untuk memperdayai wisatawan, transformasi digital membawa dampak banyak yakni percepatan informasi, kemudian wisatawan sudah experience turis karena mereka sudah mempelajari termasuk soal transportasi.

Yang perlu diantisipasi antara lain travel agent tak berijin. Menurut Pitana, semua harus punya daftar usaha, bagaimana menggunakan jasa IT dan yang tak memiliki tempat tak tetap dan ini tantangannya, ada suatu kekacauan di mana pola lama tidak bisa diterapkan lagi. “Marilah kita mencari solusi termasuk merangsang informasi di mana ketika konsumen berubah maka kita harus berubah,” pesannya. (Nikson/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.