Ni Nengah Sari tinggal seorang diri di gubuk reot. (BP/nan)

 

AMLAPURA, BALIPOST.com – Kadang Tidak Makan Akibat Tak Punya Uang untuk Belanja Ni Nengah Sari tidak pernah membayangkan perjalan hidupnya akan memilukan seperti ini. Perempuan asal Banjar Dinas Tegallinggah, Desa Tegalinggah, Karangasem ini harus mengabisakan hari- harinya tinggal di sebuah gubuk reot ukuran 2×2 meter setelah diterlantarkan pihak keluarga.

Apalagi, dengan kondisi fisiknya yang tidak mendukung karena tidak dapat berjalan layaknya orang normal pada umumnya pasca mengalami kecelakaan sekitar empat tahun lalu. Untuk bisa berjalan, dirinya harus menggunkan tongkat bantuan dari relawan.

Saat disambangi di gubuknya, Sari terlihat sedang membersihkan perabotan dapur di sungai yang jaraknya sekitar 10 meter dari gubuknya. Ketika hendak menuju ke gubuknya usai membersihkan perabotan dapur. Sari terpaksa harus memakai tongkat karena tidak bisa berjalan akibat kecelakaan yang dialaminya empat tahun lalu. Terlihat adiknya membawakan makanan untuk sarapan pagi. Tempat tinggal sangat tidak layak. Karena gubuk tempat tinggal sudah reot. Dinding gubuk hanya memakai gedek dan terpal. Ketika malam hari kondisi gelam gulita karena tidak asa listrik ditambah suhu udaranya dingin. Sedangkan ketika siang hari udaranya sangat panas karena atap gubuk memakai seng.

Ni Nengah Sari menceritakan, jika dirinya sudah menikah sebanyak dua kali. Dimana hasil pernikahan dengan suami pertama di memiliki satu orang anak. Dan suami pertamanya meninggal dunia. Setelah itu, dirinya menikah lagi untuk kedua kalinya. Dan suaminya yang kedua ini juga meninggal dunia akibat mengalami kecelakaan dengan dirinya sekitar empat tahun lalu. Sedangkan dirinya tidak bisa berjalan akibat inseden tersebut.

Baca juga:  Soring Sebatang Kara, Tempati Gubuk Reot

Sari menambah, jika dirinya baru sekitar tiga bulan menempati gubuk ini. Karena sebelumnya dirinya tinggal sendirian di kost yang ada di wilayah kota Amlapura. Karena, tidak ada uang untuk membayar kos dan setelah diberikan meminjam lahan itu, akhirnya dirinya memilih tinggal di gubuk tersebut sendirian.

Dia menuturkan, ketika pada malam harinya kondisinya gelap gulita karena tidak ada lampu. Sedangkan untuk siangnya kondisinya sangat panas, karena atap gubuk memakai seng.

Dia menambahkan, pasca kecelakaan itu, dirinya sama sekali tidak bisa bekerja mencari nafkah untuk menghidupi dirinya. Kata dia, ketika jatuh empat tahun silam Dinas Sosial Karangasem sempat memberikan bantuan untuk operasi kakinya. Namun untuk sekarang ini, dirinya serba kesusahan. Bahkan, untuk makan sehari-hari adiknya yang membawakan. Bahkan, sempat tidak makan karena tidak memiliki uang untuk belanja. “Dua hari yang lalu ada bantuan yang membawakan kompor, telor, beras dan kebutuhan yang lainnya. Sehingga saya bisa memasak,”katanya.

Dijelaskannya, jika dirinya bersaudara lima orang. Dan semunya sudah menikah. Disinggung kenapa tidak tinggal sama kakak laki-laki yang rumahnya cukup bagus?, Sari mengungkapkan, jika kakak kandungnya tidak mau menerima dirinya untuk tinggal serumah dengan dirinya. “Mungkin niki pejalan hidup tiange (mungkin ini pejalan hidup saya-red),” ucapnya sambil berlinang air mata.

Atas kondisi ini, dirinya sangat berharap kepada warga maupun pemerintah daerah supaya bisa memberikan bantuan kepada dirinya. “Saya harap bantuan pemerintah. Semoga bisa dibantu,”jelasnya. (eka prananda/balipost)

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.