Ibu-ibu merasa resah karena elpiji 3 Kg diduga dioplos air. (BP/udi)

BANYUWANGI, BALIPOST.com – Ibu-ibu di Dusun Krajan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Banyuwangi, belakangan resah. Pemicunya, marak gas elpiji 3 kilogram yang diduga dioplos menggunakan air. Indikasinya, gas tersebut cepat habis. Apinya tak bisa maksimal. Bahkan, ada yang ngadat. Sama sekali tak menyala.

Keresahan para ibu ini sudah berlangsung sebulan terakhir. Awalnya, mereka tak curiga saat membeli gas elpiji bersubsidi tersebut. “Saya baru sadar setelah tiga kali membeli gas. Yang biasanya bisa tahan 15 hari. Sekarang, tidak sampai seminggu sudah habis. Padahal, kegiatan masaknya tetap sama,” keluh Jaenab (50), salah satu warga.

Dia baru sadar gas elpijinya bermasalah saat mengangkat tabung. Terasa seperti berisi air. Saat tabung digoyangkan, ada benda cair yang terasa bergerak. Lalu, dari mulut tabung gas keluar air. “Saya baru sadar, tabung ini ternyata berisi air. Beratnya masih terasa, tapi apinya sudah tidak ada,” keluh ibu rumah tangga ini.

Kondisi itu membuatnya kelimpungan. Sebab, biaya dapur terus membengkak. Apalagi, harga gas elpiji 3 kilogram terus naik. Dari Rp 17.000 menjadi Rp 19.000 per tabung.

Baca juga:  PDAM Kehilangan Air Capai 20 Persen

Keluhan serupa diungkapkan Khosiah (51), ibu rumag tangga lainnya. Wanita yang juga pedagang tahu cilok ini curiga dengan gas yang dibelinya di toko. “Biasanya, bisa tahan hingga 7 hari. Sekarang, maksimal 3 hari sudah habis. Ini agak aneh,” keluhnya.

Karena curiga, dia sempat menggoyangkan tabung gas miliknya. Ternyata, terasa seperti ada cairan di dalamnya. Makin digoyangkan, makin terasa gerakan airnya.

Dia menduga, gas elpiji tersebut diisi air. Sehingga, tetap terasa berat. Sedangkan, gas elpijinya hanya sedikit. Tak sampai 3 kilogram. Akibatnya, dia harus menambah biaya produksi tahu cilok. Apalagi, pasokan elpiji sering telat di desanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi Sih Wahyudi mengaku belum menerima laporan terkait peredaran elpiji aneh tersebut. Meski begitu, pihaknya akan segera menerjunkan tim ke lapangan. Termasuk, menggandeng jajaran Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Banyuwangi. “Kita akan turun ke lapangan. Nanti, kita akan pastikan kenapa gas elpiji tersebut bisa aneh,” tegas mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banyuwangi itu. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.